Moneter.co.id – PT Pertamina (Persero) akhirnya buka suara
terkait dengan munculnya pesaing baru untuk penjualan dan pendistribusian Bahan
Bakar Minyak (BBM), PT Vivo Energy Indonesia. Namun, Pertamina sendiri tidak
merasa khawatir dan menganggap bahwa Vivo tidaklah sebanding dengan perusahaan
minyak yang dimiliki Negara.
Direktur
Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan, apabila ingin membandingkan Vivo
dengan perusahaan yang dipimpinnya, janganlah saat ini. Vivo sendiri sejauh ini
baru memiliki satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Baru satu
SPBU udah diadu-adu. Ini kan baru satu SPBU, nanti kita lihat lah kalau sudah
50 SPBU baru kita ngobrol,”
ujar Massa di Jakarta, Kamis (02/11).
Sementara, Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar juga mengatakan
hal yang serupa. Menurutnya, untuk saat ini Pertamina memiliki outlet atau SPBU sebanyak 6.300 yang tersebar
di seluruh penjuru Indonesia. Sementara Vivo sendiri hanya satu dan lokasinya
pun berada di Jakarta.
“Kita
punya outlet yang tersebar di seluruh Nusantara
sampai ke pelosok itu kurang lebih 6.300 SPBU, kalau dibandingin satu gelintir ini ya enggak sebanding
lah. Betul-betul enggak sebanding. Kalau sudah lebih dari 50 atau seratus ya
baru kita ngomong compare dan juga layanannya seperti apa,”
ujarnya.
“Ya
sudah lah. Enggak sebanding sama sekali itu, dengan 6.300 di seluruh Indonesia.
Satu dibanding 6.300, lokasinya di pusat keramaian lagi. Sudah gitu lokasinya
di Cilangkap,” ucap Iskandar.
Beberapa
waktu yang lalu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan
meresmikan SPBU milik PT Vivo Energy Indonesia. Peresmian tersebut
dilangsungkan di Cilangkap Jakarta Timur, Kamis (26/10/2017).
Seperti diketahui, Revvo
sendiri memiliki tiga produk bahan bakar, yaitu RON 89, RON 90, dan RON 92. RON
89 setara dengan produk jenis Premium milik Pertamina. Menariknya, harga yang
dipatok RON 89 senilai Rp6.100. Harga tersebut lebih murah dibandingkan harga
premium.
Jonan mengatakan pemerintah memberikan kesempatan terhadap pihak swasta atau non
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menyalurkan BBM seperti halnya PT Vivo
Energy Indonesia.
“Dari
pemerintah itu, kita memberikan kesempatan juga kepada pihak swasta atau yang
non BUMN juga untuk menyalurakn BBM. Ya, tentunya juga harus mengikuti
peraturan,” ucap Jonan. (SAM)




