Moneter.id – Aku adalah seorang perempuan
yang memilih untuk sendiri sampai akhir hayat sebagai pilihan hidupku. Dan,
inilah kisahku.
Menjadi seorang perempuan yang memilih untuk single ketimbang
harus mencari cowok sebagai pendamping hidup merupakan prinsip yang benar-benar
berbeda dengan kebanyakan orang.
Orang ‘normal’ lainnya
mungkin sudah punya pasangan, kemudian nikah terus punya anak, keliatan bahagia
banget. Seakan-akan mereka tuh gampang buat meraih kebahagiaan yang semestinya.
Tapi, di hidupku hal seperti itu adalah sebuah kemewahan yang nggak akan pernah
aku dapatkan alias harapan kosong.
Semua ini berawal dari tahun 2014. Tahun di mana saat-saat
terendah dalam hidupku terjadi tanpa adanya pertanda sama sekali, jadi siap
nggak siap aku harus jalanin apa yang sudah Allah gariskan. Mulai dari masalah
keluarga yang segitu banyaknya, kemudian tugas akhir kuliah yang nggak
selesai-selesai sampai dosen selalu marah kalo ketemu aku, nggak ada temen buat
diajakin curhat dan ngebantuin ngerjain tugas kuliahku, sampai aku yang
diputusin sama pacar dengan alasan yang nggak jelas yang kutau ternyata dia ada
main sama cewek di belakangku padahal dia yang harusnya paling tahu gimana
keadaanku saat itu dan segala macem printilan kesialan yang menghiasi
hari-hariku justru malah jadi orang yang paling menyakitiku.
Mungkin bagi sebagian orang, apa yang aku alami ini merupakan
hal biasa yang bisa dijalani dengan mudah tanpa adanya embel-embel trauma. Beda
denganku yang punya mental nggak sekuat itu hingga mungkin selamanya akan
selalu membekas.
Aku inget banget waktu itu kejadiannya pada bulan puasa.
Kegiatan magang yang ternyata aku nggak dianggep sama temen bahkan pacarku
sendiri. Bahkan dosen pembimbing kita yang sama pun lebih membangga-banggakan
dia di depanku yang pada saat itu kita udah putus. Udah gitu pun kalo ada
apa-apa sama dia dalam artian kinerjanya menurun, aku yang dimarahi sama pak dosen.
Dalam perjalanan pulang tangisan selalu menjadi teman setia.
Sampai rumah pun keadaan rumah nggak semenyenangkan itu. Untuk masalah keluarga
maaf aku nggak bisa sharing di sini.
Dalam sujudku selalu diiringi oleh tangisan piluku yang tertahan semata-mata
supaya aku bisa lebih ikhlas menerima semua ini.
Tiap malem sebelum tidur aku
juga selalu menyempatkan diri untuk menangis, nggak jarang hingga terbawa
mimpi. Mauku sih, kalau bisa ini semua cuma mimpi aja biar pas bangun aku
sungguh sangat bersyukur kalau semua ini bukanlah kenyataan.
Akhir tahun 2014 aku diwisuda. Harusnya aku move on dan berusaha memperbaiki diri.
Tapi nyatanya, hidupku kayak bener-bener berhenti. Nyari kerja nggak
dapet-dapet. Trauma yang belum sembuh tentang masa itupun selalu menghantuiku.
Ngeliat temen-temen yang udah pada sukses dalam karirnya, bahkan ada yang
menikah dan punya anak, dapet suami atau istri yang hebat disamping mereka.
Jujur aku iri. Tapi, aku merasa aku nggak berhak untuk dapet itu semua.
Cuek dengan semua lelaki yang mencoba mendekati, menghindar
bila ada lelaki yang ingin berkenalan, bahkan menolak dengan tegas ketika Ibu
menawarkan sebuah perjodohan.
Menurutku, lebih baik aku
hidup sendiri saja seumur hidup daripada mencoba lagi tapi nyatanya mereka para
lelaki hanya akan menyakitiku lagi dan lagi. Karena aku sendiri pun nggak
sanggup untuk menjalani sakitnya untuk kesekian kalinya.
Bahkan aku juga sengaja menarik diri dari lingkar
pertemananku, nggak main social media sampai beberapa waktu. Menolak ajakan
teman hangout bareng. Seakan-akan aku
lebih nyaman sembunyi dalam kegelapanku.
Hingga dua tahun kemudian tepatnya tahun 2016, aku bermimpi
yang rasanya begitu nyata. Aku bermimpi seorang lelaki yang begitu jelas
penampilannya seperti apa, baju kesukaannya apa, hobinya apa, bahkan
keluarganya seperti apa, tapi aku nggak tahu bagaimana rupa wajahnya. Waktu itu
kupikir itu hanyalah mimpi yang nggak ada artinya.
Sampai setahun kemudian tahun 2017 akhirnya aku mendapatkan
pekerjaan. Namanya juga anak baru, pada saat hari pertama selalu di cie-ciein
dan dijodoh-jodohin. Di saat itu juga aku berkenalan dengan seorang cowok sebut
saja namanya Danish.
Kata senior-seniorku, dia
orangnya baik, soleh, nggak macem-macem pokoknya tipikal suamiable namun aku
cuek-cuek saja toh aku niatnya kerja bukan nyari jodoh lagian aku juga sebodo
amat sama cowok siapapun itu.
Hingga suatu hari shift
kerja kami berdua nggak sengaja bersamaan. Sebenarnya aku malas banget
kalau harus kerja bareng dia, tapi apalah daya ketika semua orang di situ
sedang mencoba untuk mencomblangkan kami berdua. Mau nggak mau aku mencoba
untuk menjawab setiap obrolannya dengan sedikit terpaksa yang menurutku agak
ngebosenin.
Lama kelamaan kami jadi sering ngobrol karena shift kerja yang banyak barengnya
ditambah lagi kepribadian Danish yang nggak semengerikan seperti mantan-mantan
aku sebelumnya. Dia ngeliatin banget kalau aku tuh kayak penting buat dia.
Sampai suatu hari omongannya yang absurd
ngebuat aku jadi ilfeel setengah
mati.
“Kamu mendingan jujur aja deh sekarang daripada aku tahu dari
orang lain,” katanya sambil menampakkan muka datar waktu sebelum shift kerjanya dia dimulai.
“Hah?! Jujur apaan?! Selama ini aku udah jujur deh buat jawab
setiap pertanyaan-pertanyaan kamu,” aku mulai tersinggung dengan apa yang dia
bicarakan disangkanya selama ini aku bohongin dia.
“Ya jujur pokoknya. Aku tunggu jawabanmu malem nanti abis
pulang kerja.” Terus aku ditinggal gitu aja dengan tanda tanya besar di
kepalaku. Nih anak kesambet setan mana sih pikirku.
Sampai pulang kerja pun aku makin jengkel dan uring-uringan
cuma gegara nggak ngerti maksud pertanyaan absurd
yang dia maksud. Kami saling diam sampai tiba di suatu balkon sebuah café
dengan pemandangan menghadap ke alun-alun kota. Kami masih saling diam sampai
aku yang memulai pembicaraan.
“Jujur,aku nggak ngerti maksud pertanyaan kamu. Kalau kamu
emang nggak percaya sama aku ya udah terserah,” dengan sedikit jengkel aku
menatapnya. Danish hanya diam dan menatapku balik. Hingga kemudian dia
menceritakan semuanya tentang masa lalunya padaku. Mulai dari masalah
keluarganya, hingga mantan pacarnya yang baru kutahu ternyata masih satu
perusahaan dengan kami itu ternyata menjadikan dia hanya sebagai pacar kedua
padahal masih ada pacar-pacar yang lain. Bahwa orang yang dia perjuangkan lebih
dari satu tahun ternyata mengkhianatinya dengan cara sekejam itu. Sama. Kami
punya masa lalu buruk yang sama, bahkan masalah keluarga pun juga sama.
Malam-malam berikutnya kami
berdua sering keluar bersama hingga dia menyatakan cinta, bahkan dia menawarkan
sebuah hubungan yang serius. Aku masih saja sedikit ragu dan aku menjawab kita
jalanin aja apa adanya. Sampai sekarang aku mengenalkannya kepada keluargaku,
tanggapan mereka semua langsung positif terutama ibuku. Bahkan sifatnya dia,
perlakuan dia padaku tak berubah justru semakin baik. Di suatu saat aku
tersadar bahwa ternyata mimpiku waktu itu benar-benar menjadi kenyataan dan aku
menceritakan semuanya padanya.
“Kenapa kita dipertemukan baru sekarang? Coba aja kamu ada di
waktu aku dalam titik terendahku dan aku ada disaat kamu terjatuh waktu itu,
pasti kita berdua nggak akan semenderita ini,” aku mengatakan itu sambil
menangis.
“Maaf, mungkin waktu itu kita terlalu fokus dengan hidup kita
masing-masing dulu. Yang penting sekarang, kita udah ditemuin dan aku nggak
akan ngelepasin kamu. Aku sayang sama kamu,” ucap Danish sambil tersenyum
lembut dan menghapus air mata yang sedari tadi meleleh di pipi.
Jodoh memang rahasia Allah. Jodoh juga memang di tangan
Allah. Tapi, Allah hanya mencoba untuk mendekatkan seorang jodoh itu kepada
kita namun untuk sebuah akhir tetap kita sendiri yang memilihnya mau menerima
atau justru menolak.
Aku yang awalnya mati-matian
untuk nggak mau punya pasangan lagi dan memilih untuk hidup sendirian justru
dipertemukan dengan seorang cowok yang sesempurna ini, bahkan lebih dari
khalayanku tentang bagaimana sosok seorang cowok yang sempurna.
Dari situ hidupku mulai lebih berarti lagi, nggak melulu
hidup bagaikan pecundang yang terus-terusan kalah. Dari yang awalnya aku selalu
ditimpa musibah terus menerus sendirian, menangis sendirian, meratapi nasib
sendirian. Sekarang kalaupun aku dapat musibah apapun, aku nggak nangis
sendirian lagi tapi sudah ada dia yang siap menyodorkan bahu dan lengannya ketika
aku butuh sandaran.
Jadi masihkah aku harus menolaknya meski aku sudah tahu
bagaimana dia, bahkan sangat nyaman berada di dekatnya, dan seistimewa dia?
(TOP/ Vemale)




