Sabtu, November 29, 2025

ADB proyeksikan ekonomi Indonesia ‘meroket’ pada 2022

Must Read

Moneter
Asian Development Bank (ADB)
memproyeksikan perekonomian Indonesia akan kembali tumbuh tinggi pada 2022
dengan angka mencapai 5 persen sedangkan tahun ini diperkirakan 4,5 persen.

“Indonesia melewati tahun 2020 dengan baik
berkat respon krisis yang dikoordinasikan dan dikomunikasikan dengan bagus
serta kepemimpinan yang kuat dalam menanggulangi pandemi,” kata Direktur ADB
untuk Indonesia Winfried Wicklein di Jakarta, Rabu
(28/4).

Wicklein menyatakan Indonesia akan kembali
ke jalur pertumbuhannya pada tahun depan dengan didorong oleh pulihnya
perdagangan secara berkelanjutan, kebangkitan sektor manufaktur, dan anggaran
pemulihan ekonomi nasional yang besar untuk 2021.

“Pengeluaran
rumah tangga di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada 2021 seiring
melajunya program vaksinasi dan makin banyak sektor perekonomian yang kembali
beroperasi
,” ucap Wicklein.

Untuk investasi diharapkan akan meningkat
lagi bersama dengan membaiknya prospek ekonomi sedangkan laju pemulihan
pembiayaan atau kredit masih akan tertinggal mengingat ketidakpastian sentimen
investor.

Kemudian untuk inflasi yang mencapai
rata-rata 1,6 persen tahun lalu diperkirakan akan naik ke level 2,4 persen pada
2021 sebelum akhirnya turun lagi ke level 2,8 persen pada 2022.

Angka inflasi ini masih berada dalam
rentang target Bank Indonesia karena tekanan inflasi akibat depresiasi mata
uang dan permintaan pangan yang lebih tinggi akan diimbangi sebagian oleh
penurunan harga barang yang ditetapkan pemerintah.

Selanjutnya, ekspor bersih yang didukung
oleh kuatnya ekspor komoditas akan menjadikan defisit transaksi berjalan
sebesar 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2021.

Seiring naiknya investasi tahun depan
serta volume barang modal impor yang lebih tinggi seperti mesin dan peralatan
maka diperkirakan akan mendorong defisit transaksi berjalan Indonesia hingga
1,3 persen PDB pada 2022.

Wicklein menyebutkan terdapat beberapa
risiko terhadap perkiraan ini di antaranya terganggunya pemulihan global oleh
ancaman dari mutasi COVID-19, laju vaksinasi yang tidak merata di dunia, dan
pengetatan keuangan global yang tidak terduga.

Sementara di dalam negeri, pemulihan
ekonomi dapat melambat bila terjadi lonjakan kasus COVID-19 selama bulan
Ramadhan, keterlambatan dalam upaya vaksinasi, dan melemahnya pendapatan pemerintah.

Oleh sebab itu, ADB merekomendasikan agar
Indonesia memobilisasi sumber daya domestik dan memastikan pembangunan ekonomi
yang ramah lingkungan.

Kemudian untuk mengatasi kekhawatiran
mengenai utang yang berlebihan dapat diatasi dengan reformasi fiskal untuk
memperluas basis pajak, meningkatkan administrasi dan kepatuhan pajak, serta
menutup celah-celah perpajakan.

“Juga dengan mendorong pemulihan yang
ramah lingkungan akan melindungi lingkungan dan mendukung pertumbuhan ekonomi
serta membuka lapangan kerja,” katanya.
(Ant)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

ecoCare Hygiene Solusi Sanitasi Modern untuk Lingkungan Bisnis

Standar kebersihan di lingkungan bisnis semakin meningkat dan kini menjadi salah satu faktor penting yang menentukan profesionalitas sebuah institusi....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img