Minggu, Maret 1, 2026

Alami Surplus Januari-April 2020 Sebesar USD777,34 Juta, Ekspor Industri Pengolahan Naik 7 Persen

Must Read

Moneter.id
Di
tengah tekanan pandemi Covid-19
, kinerja
ekspor dari industri pengolahan masih mencatatkan nilai positif. Sepanjang Januari-April
2020, pengapalan produk industri pengolahan mampu menembus hingga USD42,75
miliar atau naik sebesar 7,14
%
dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Neraca perdagangan untuk industri
pengolahan pada periode Januari-April 2020 adalah surplus sebesar USD777,34
juta,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, Janu
Suryanto di Jakarta, Kamis (28/5
/2020).

Janu menyebutkan, nilai ekspor industri
pengolahan pada bulan April 2020 tercatat mencapai USD9,76 miliar. Apabila dilihat
dari volumenya, ekspor produk industri pengolahan pada bulan keempat tahun ini
sebesar 8,49 juta ton atau naik sebesar 2,66
%
dibanding Maret 2020.

Adapun sektor industri makanan menjadi
penyumbang devisa terbesar dari ekspor industri pengolahan pada bulan April
2020, dengan menyentuh nilai USD2,35 miliar.

“Jika dilihat dari faktor pembentuknya,
nilai ekspor sektor industri makanan pada bulan April 2020 didominasi oleh
komoditas minyak kelapa sawit sebesar USD1,30 miliar atau memberi kontribusi
sebesar 55,28
%,”
jelas Janu.

Sumbangsih lainnya, diikuti oleh sektor
industri logam dasar sebesar USD2 miliar, industri bahan kimia dan barang dari
bahan kimia USD1,06 miliar, serta industri kertas dan barang dari kertas USD564
juta.

Berikutnya, nilai ekspor industri karet,
barang dari karet, dan plastik menembus USD501 juta, kemudian industri kulit,
barang dari kulit, dan alas kaki USD463 juta, industri komputer, barang
elektronik, dan optik USD417 juta, serta industri pakaian jadi USD397 juta.

“Pada bulan April 2020, China masih
menjadi negara tujuan ekspor utama industri pengolahan dari Indonesia, diikuti
oleh Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan,” ungkap Kapusdatin
Kemenperin.

Apabila dilihat dari pertumbuhan secara tahunan
(yoy), ekspor ke Singapura naik hingga
25,09
%, China menanjak sebesar 16,25%, dan Korea Selatan melonjak
sekitar 5,59
%.

Sementara itu, Direktur Industri Tekstil,
Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Elis Masitoh menyatakan bahwa pelonggaran
kebijakan lockdown di sejumlah negara
tujuan ekspor akan menjadi momentum untuk menggenjot pengapalan alat pelindung
diri (APD) dari Indonesia.

“Ke depannya, kita akan bisa menjadi
produsen APD atau masker kain untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia,” ujarnya.

Kemenperin mendata, saat ini industri
tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional memiliki kapasitas produksi APD
hingga 54 juta unit per bulan. Adapun, kebutuhan di dalam negeri hanya sekitar
10 juta unit per bulan.

Elis menjabarkan, kebutuhan APD untuk petugas
kesehatan mencapai 5,5 juta unit per bulan. Adapun, Kemenperin telah menyiapkan
penyangga atau kebutuhan cadangan sekitar 5 juta
8 juta unit hingga akhir tahun ini.

“Saat ini, produksi APD nasional kondisinya
surplus hingga 40 juta unit APD per bulan,” ungkapnya.

Ini artinya,
lanjut Elis, produksi APD bisa
menjadi titik cerah bagi industri TPT untuk meningkatkan kinerjanya melalui
capaian ekspor pada masa pandemi saat ini.

Elis menyebutkan, beberapa negara tujuan
ekspor yang bersedia menyerap APD dari Indonesia, antara lain Korea Selatan,
Jepang, dan Amerika Serikat.

“Industri
yang akan mengekspor APD tersebut adalah pabrikan skala besar hingga sektor industri
kecil menengah (IKM)
,” tutup Elis.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sambut Ramadan 2026, Grand Travello Hotel Bekasi Hadirkan Showcase Kuliner dan Paket Spesial

Grand Travello Hotel menggelar Ramadan Showcase 2026 sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berkualitas bagi masyarakat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img