Tren gaya hidup sehat yang kian populer di kalangan pekerja urban justru menyimpan ironi. Di tengah maraknya diet viral dan tantangan olahraga di media sosial, risiko kesehatan dinilai tetap meningkat akibat derasnya arus informasi yang tidak akurat atau menyesatkan, terutama di ruang digital.
Fenomena infodemic—yakni penyebaran informasi berlebihan termasuk informasi keliru saat wabah penyakit—menjadi sorotan di tengah dominasi media sosial dalam kehidupan masyarakat. Kondisi ini membuat banyak pekerja dengan mobilitas tinggi terjebak pada pola hidup sehat instan yang tidak berkelanjutan.
Menjawab kondisi tersebut, Allianz Indonesia memanfaatkan momentum World Health Day bertema Together for Health, Stand with Science dengan menghadirkan inisiatif wellbeing yang menekankan pentingnya gaya hidup sehat realistis dan berbasis bukti ilmiah.
“Di tengah rutinitas kerja yang padat, kesehatan sering jadi prioritas terakhir atau baru dipikirkan ketika ada tren. Kami ingin menggeser cara pandang itu, bahwa hidup sehat bukan sesuatu yang menunggu waktu luang, tapi harus dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Ini bukan soal tren sementara, tapi investasi jangka panjang,” ujar Nina Hatumena, Chief People & Culture Allianz Life Indonesia.
Langkah ini dinilai relevan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat urban terhadap kesehatan, namun belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai praktik hidup sehat yang benar. Allianz menggandeng figur publik sekaligus wellness enthusiast Melanie Putria dan ahli gizi Rinta Agustiani Dwiputra untuk memperkuat edukasi tersebut.
Melanie menyoroti salah kaprah yang kerap terjadi di kalangan pekerja kota terkait aktivitas fisik. Menurut dia, banyak orang menganggap aktivitas harian seperti berjalan menuju transportasi umum atau melakukan pekerjaan rumah sudah cukup menggantikan olahraga.
“Banyak orang merasa sudah cukup aktif karena aktivitas harian seperti beres-beres rumah atau berjalan saat menggunakan transportasi umum. Padahal itu termasuk Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yaitu aktivitas fisik non-olahraga,” ujarnya.
Ia menegaskan, aktivitas tersebut memang memberi manfaat bagi tubuh, tetapi belum bisa menggantikan olahraga yang terstruktur dan terukur. Karena itu, empat pilar utama—olahraga, nutrisi, istirahat dan recovery, serta manajemen stres—harus tetap menjadi fondasi utama gaya hidup sehat.
Di sisi lain, Rinta menilai persoalan utama saat ini bukan lagi minimnya informasi, melainkan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang benar.
“Banyak orang ingin hidup sehat, tapi terjebak pada tren atau solusi instan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Akibatnya, hasilnya tidak bertahan lama, bahkan bisa berdampak sebaliknya,” jelasnya.
Ia mencontohkan maraknya tren diet ekstrem yang justru berisiko mengganggu metabolisme tubuh dan memicu efek yoyo, yakni penurunan berat badan drastis dalam waktu singkat yang kemudian kembali naik dengan cepat.
Melalui sesi Trend vs Truth, Allianz menyoroti sejumlah pola diet populer yang banyak diikuti masyarakat urban, mulai dari very low-calorie diet, diet keto, intermittent fasting, hingga juice fasting. Menurut perusahaan, pendekatan tersebut dapat memberikan manfaat dalam kondisi tertentu, tetapi berpotensi menimbulkan risiko apabila dilakukan tanpa pendampingan yang tepat.
Allianz juga menekankan bahwa kebiasaan sederhana justru lebih efektif untuk menjaga kesehatan pekerja urban, seperti pola makan seimbang, olahraga rutin yang menggabungkan kardio dan latihan beban, tidur berkualitas, micro-break setiap 90 menit, hingga power nap singkat untuk menjaga fokus kerja.
Lebih jauh, perusahaan menilai pendekatan kesehatan berbasis sains tidak hanya berhenti pada perubahan gaya hidup, tetapi juga langkah pencegahan seperti imunisasi. Mengacu pada data World Health Organization, sebanyak 154 juta nyawa telah terselamatkan melalui imunisasi, setara dengan enam nyawa setiap menit selama 50 tahun terakhir.
Pesan yang ingin ditegaskan, di tengah derasnya tren kesehatan yang silih berganti, fondasi kesehatan masyarakat—khususnya usia produktif—tetap bertumpu pada intervensi yang konsisten, realistis, dan berbasis bukti ilmiah.
Di tengah ritme dunia kerja yang semakin cepat, tren mungkin datang dan pergi. Namun bagi pelaku industri kesehatan dan asuransi, momentum ini menjadi pengingat bahwa kesehatan tetap merupakan investasi jangka panjang yang tidak bisa dibangun secara instan.




