Moneter.id –
Jakarta – Kuartal I/2023, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) membukukan pendapatan
sebesar 50,88 juta dolar AS. Dimana yang sebesar 50,08 juta dolar AS bersumber
dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
“Meski saat ini harga CPO terkoreksi disebabkan akan
memasuki puncak produksi, kami mempercayai bahwa tren harga CPO dalam jangka
panjang masih bullish,” kata Direktur Keuangan ANJ Nopri Pitoy di Jakarta,
Rabu (7/6/2023).
Katanya, faktor yang mempengaruhi harga jual CPO antara
lain gangguan pasokan energi akibat ketegangan politik berkepanjangan antara
Ukraina dan Rusia, serta eskalasi konflik antara China dan Taiwan.
“Selain itu, El Nino yang berpotensi terjadi juga
akan mengganggu pasokan global dan produksi kelapa sawit,” paparnya.
Nopri bilang, untuk mempercepat pertumbuhan pendapatan ke
depan, ANJ akan melakukan melakukan replanting atau penanaman kembali pada
kebun-kebun kelapa sawit yang berusia tua dan tidak produktif untuk menjaga profil
usia tanaman yang seimbang.
“Hingga kuartal I/2023, sebanyak 45 persen tanaman kami
berada pada kondisi prima karena baru berusia 8 sampai 20 tahun. Berikutnya, 24
persen tanaman sawit kami merupakan tanaman muda dan hanya 14 persen tanaman
kami yang merupakan tanaman tua,” katanya.
Kondisi tersebut merupakan hasil dari penanaman kembali
yang dilakukan oleh perusahaan sejak tahun 2015 hingga saat ini.
Hingga kuartal I-2023, total lahan yang telah dilakukan
penanaman kembali mencapai 9.586 hektare, termasuk 370 hektare yang dilakukan
pada kuartal I-2023.
ANJ juga akan menerapkan strategi lain untuk meningkatkan
meningkatkan produktivitas, misalnya dengan melakukan inovasi agronomi,
memanfaatkan teknologi dan digitalisasi dengan menggunakan GIS dan EPMS (Electronic Plantation Mobile Solution).
Beberapa inovasi juga akan dijalankan untuk mengurangi
dampak cuaca ekstrim akibat perubahan iklim, seperti pengomposan, drip fertigation dan pengelolaan air.
“Kami berharap dengan menjalankan strategi keseimbangan
usia tanaman melalui program replanting agar dapat meningkatkan produktivitas
dalam jangka panjang dan menjaga pertumbuhan di masa depan,” katanya.
“Kami akan terus melanjutkan praktik perkebunan yang
berkelanjutan dengan inovasi agronomi, teknologi dan transformasi digital,
serta mencapai ambisi ESG kami,” lanjutnya.
Adapun pada kuartal I/2023 ANJ mencatatkan rugi periode
berjalan sebesar 3,91 juta dolar AS dari sebelumnya meraih laba periode
berjalan 11,16 juta dolar AS pada kuartal I-2022.
Penurunan tersebut sejalan dengan pendapatan ANJ di
kuartal I/2023 yang turun 32,7 persen secara tahunan dan peningkatan pengakuan
beban bunga dari perkebunan Papua Barat Daya.




