Moneter.co.id – Asosiasi Pengusaha Ritel (Aprindo) membantah spekulasi bahwa keputusan PT
Mitra Adiperkasa (MAP) menutup sejumlah gerai Lotus Department Store karena faktor
pelemahan daya beli. Meski saat ini pertumbuhan industri ritel melambat, hal
tersebut terjadi bukan karena faktor lesunya permintaan.
Ketua
Umum Aprindo, Roy Mande mengatakan, tak dipungkiri geliat industri ritel dalam beberapa
tahun terakhir tumbuh melambat. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, misalnya
perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang saat ini memilih menggelontorkan
uangnya untuk berpergian dibandingkan belanja.
“Ada juga yang
memindahkan uang belanjanya ke perbankan, jadi dana pihak ketiga. Jadi bukan
karena daya beli,” kata Roy, Selasa (24/10).
Roy menjelaskan, Aprindo belum menerima secara resmi informasi penutupan sejumlah
gerai Lotus oleh MAP. Tapi, ditegaskan penutupan gerai Lotus sama sekali
tidak berhubungan dengan adanya pergeseran konsumsi masyarakat ke ritel online.
Roy
mencontohkan, dari penutupan sejumlah gerai Matahari Departement Store yang
juga dikelola oleh MAP. Menurutnya, penutupan gerai Matahari di kawasan Blok M
dan Manggarai hanyalah realokasi tempat agar menjadi lebih strategis. “Saya
dengar penutupan itu lebih kepada mereka mengganti format. Konsolidasi pasar,”
jelasnya,.
Sekedar informasi, setelah dua gerai Matahari Departement Store tutup beberapa waktu
lalu, Lotus Departement Store yang berada di bawah manajemen PT MAP juga memutuskan untuk menutup gerainya. Mulai dari gerai di kawasan
Thamrin, Jakarta Pusat, Bekasi, dan kawasan Cibubur.
(SAM)




