MONETER
–
PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) meraup dana segar sebanyak Rp182,67 miliar melalui
penerbitan 608.895.000 saham baru pada penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa
Efek Indonesia (BEI).
“Kami akan menggunakan dana hasil IPO ini untuk
dua keperluan,” kata Direktur Utama ARKO Aldo Artoko di Jakarta, Jumat (8/7/2022).
Pertama,
sebesar 63 persen untuk tambahan investasi pada anak perusahaan yang akan dimaksimalkan
guna pengembangan proyek-proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) ke depannya, yaitu
54 persen di PT Arkora Hydro Sulawesi (AHS), 29 persen di PT Arkora Energi
Baru, dan 17 persen di PT Arkora Tenaga Matahari.
Kedua,
sisanya sekitar 37 persen, akan digunakan untuk pelunasan kewajiban jangka
pendek. Sedangkan dana yang diperoleh dari kelebihan pemesanan penjatahan
terpusat, akan digunakan oleh perseroan untuk modal kerja antara lain rencana
pengembangan usaha pembangkit listrik tenaga air, seperti biaya survey
pencarian lokasi potensial baru, feasibility
study atau studi kelayakan, studi kelistrikan, dan studi-studi lainnya yang
berhubungan dengan pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga air.
“Bisnis EBT memiliki potensi yang sangat besar di
Indonesia, bahkan dalam teknologi yang sudah matang seperti hidro, surya dan
angin. Kehadiran hydro sudah kompetitif dibandingkan dengan pembangkit listrik
berbahan bakar batubara,” kata Aldo.
Tambah Aldo, bermodalkan pengalaman di bidang EBT,
ARKO berencana mencari peluang akusisi. “Kami juga aktif mencari proyek
hidro berpotensi besar di atas 25 MW,” ujar Aldo.
ARKO telah menyelesaikan pembangunan proyek mini
hidro Cikopo-2 dengan total biaya 1,65 juta dolar AS per MW. Cikopo-2 merupakan
pembangkit listrik berkapasitas 7,4 MW yang dimiliki dan dioperasikan oleh
ARKO.
Selain itu, ARKO juga mengerjakan proyek Tomasa.
Pengerjaan proyek Tomasa menelan biaya investasi 1,75 juta dolar AS per MW.
Biaya investasi tersebut di bawah rata-rata industri sebesar 2,2 – 2,5 juta
dolar AS per MW. Proyek Tomasa merupakan pembangkit listrik berkapasitas 10
(2×5) MW.
“Proyek ini milik ARKO melalui anak usahanya,
yaitu PT Akora Sulawesi Selatan. Tomasa proyek memasuki tahapan commercial operations date (COD) pada
bulan Maret 2020 lalu,” kata Aldo.
Sementara proyek Yaentu di Poso (Sulawesi Tengah)
sedang dalam konstruksi. Proyek Yaentu dengan kapasitas 10 (2×5) MW ini
dikembangkan oleh PT Arkora Hydro Sulawesi, anak perusahaan tidak langsung
milik ARKO.
“Proyek ini sedang dalam pengerjaan. Hingga
Maret 2022, proses pengerjaan proyek telah mencapai 50 persen. Proyek ini
ditargetkan memasuki tahapan COD pada triwulan I 2023,” ujar Aldo.
ARKO juga sedang melakukan persiapan tahap
konstruksi Proyek Kukusan-2 di Lampung, Sumatera dengan kapasitas 5,4 MW.
Proyek PLTA tersebut ditargetkan beroperasi pada triwulan IV 2024.
“Investor antusias menyambut saham ARKO. Hal itu
terlihat dari tingginya minat selama masa penawaran, sehingga mengalami
kelebihan permintaan atau oversubscribed
sebanyak 10,89 kali,” ujar Aldo.
Tingginya antusiasme investor tersebut membuat ARKO
melakukan penambahan penerbitan saham baru yang berasal dari portepel sebanyak
28.995.000 saham. Sehingga saham yang diterbitkan menjadi 608.895.000 saham,
dari rencana semula 579.900.000 saham.
Perseroan telah menetapkan harga IPO pada Rp300 per
saham dari kisaran awal antara Rp286 per saham hingga Rp310 per saham. Jumlah
saham perseroan yang ditawarkan itu mewakili 20,79 persen dari modal
ditempatkan dan disetor ARKO setelah IPO saham.




