MONETER – Lima bulan pertama tahun 2022, PT
Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatat pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp415
miliar. Pendapatan ini alami kenaikan sebesar 282 persen dibandingkan lima
bulan pertama tahun 2021 sebesar Rp108 miliar.
Kata SVP-Head of Investor Relation BNC Indra
Cahya, pertumbuhan NII tersebut didukung oleh pertumbuhan deposit dan funding yang menyebabkan aset BNC
bertambah. “Tapi, loan to deposit ratio
(LDR) tercatat masih rendah yakni di level 56 persen dan ke depannya masih ada
ruang untuk tumbuh sekitar 1,5-2 kali lipat dari capaian hingga 31 Mei 2022,”
paparnya, Senin (4/7/2022).
Tambah Indra,
untuk rasio pendapatan bunga bersih atau net
interest margin (NIM) menyentuh level 9,4 persen atau naik hampir dua kali
lipat dibandingkan posisi Mei 2021 di level 5 persen.
Kenaikan kinerja NIM tersebut didorong oleh upaya
BNC menyalurkan kredit di masa pandemi dengan menawarkan produk simpanan dengan
bunga relatif tinggi.
Indra
menyampaikan BNC memang bertujuan menjangkau masyarakat yang unbankable menjadi bankable karena potensi pasar yang sangat besar. Bunga tabungan
yang ditawarkan lewat aplikasi Neobank sebesar 6 persen dan bunga deposito
mulai dari 6,5-8 persen.
BNC juga
telah menyalurkan kredit senilai Rp5,99 triliun hingga 31 Mei 2022. Nilai
tersebut tumbuh 55,99 persen dibandingkan Mei 2021 yang berjumlah Rp3,84
triliun. Penyaluran kredit yang disalurkan secara langsung berkisar 20 persen,
channeling melalui peer to peer lending
sebanyak 60 persen dan 20 persen lainnya berasal dari kredit eksisting.
“Kenaikan
juga terlihat dari pendapatan di kuartal I 2022, yaitu sebesar Rp585 miliar
atau naik sekitar 400 persen dari periode sebelumnya yang sebesar Rp147
miliar,” ucap Indra.
Indra menyampaikan bahwa strategi BNC untuk
menaikkan lending di tahun ini juga
berdampak kepada perbaikan kinerja bulanan. Kerugian bulanan pada Mei telah
mencapai Rp90 miliar, jauh berkurang dari dari Januari 2022 yang mencapai Rp160
miliar.
Selain itu, BNC
juga menargetkan tambahan modal inti sebesar Rp5 triliun pada right issue selanjutnya, sehingga total
modal inti mencapai lebih dari Rp7 triliun. Kekuatan modal tersebut dinilai
perseroan akan semakin mempercepat akselerasi proses transformasi BNC menjadi
bank digital terbesar di Indonesia.




