Kamis, Maret 12, 2026

Batu Bara Indonesia Siap Dominasi Pasar China

Must Read

Moneter.co.id – China membutuhkan
pasokan
 
energi yang besar untuk
mengimbangi
pesatnya 
pertumbuhan sektor industri mereka.
Hal tersebut membuka peluang yang lebih besar bagi
 
pelaku usaha batu bara Indonesia untuk meningkatkan
volume
 ekspor ke
China. 

Karena itulah,
Indonesia hadir di
 The
17th China Coal and Mining Expo
 (CCME) pada
25-28 Oktober 2017 di Beijing, China
. Pada perhelatan ini PT Borneo
Pasifik Global (BPG)
 mendapat
kepercayaan mewakili Indonesia untuk pertama kali di
 coal
expo
 terbesar di China tersebut.

CCME adalah pameran pertambangan batu bara
terbesar di China dengan reputasi yang diakui seluruh dunia
yang diadakan setiap
dua tahun sekali
. Tahun ini, CCME mengambil tema, “Intelligent Manufacturing, Leading the
Future
 
dan diikuti hampir 400 perusahaan dari 18
negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia
, dan Jerman.

“BPG berusaha
agar konsumen industri, perusahaan pembangkit listrik hingga investor sektor
pertambangan dan energi dari China bisa lebih memahami regulasi dan iklim usaha
sektor pertambangan Indonesia,” kata CEO BPG, Rendy
 Halim, yang ikut
hadir di acara tersebut
.

CCME menjadi ajang untuk meningkatkan hubungan baik
antara China dan Indonesia, khususnya dalam bidang perdagangan. Calon pembeli
dan investor dari China mendapatkan penjelasan
 terkait fluktuasi harga batu bara
hingga jaminan transparansi dalam proses penambangan dan pengiriman komoditas
tersebut.
 
 

Hal ini berguna untuk meningkatkan keyakinan bahwa bisnis antara
China
 
dengan Indonesia itu sangat aman danprospektif.  Dan
juga dukungan dari kedua belah pihak, Pemerintah Indonesia dan China,
memperkuat kenyamanan dan keamanan dalam sisi berbisnis.

“Respons market amat baik. Mereka terlihat antusias
untuk memahami lebih jauh
 
perdagangan batu
bara di Indonesia.
 Melalui pameran ini
 kami ingin membuat hubungan
perdagangan batu bara antara Indonesia dan China menjadi lebih baik lagi di
segala aspek
,” kata Head of Sales PT BPG, David
Tjie,
 
saat ditemui di
Jakarta,
6 November lalu. 

David juga menjadi salah satu pembicara
di forum diskusi interna
sional CCME dengan
topik
Prospek
Coal Market Indonesia
“.
Forum ini
 
diikuti
5 perusahaan batu bara terbesar di China, perwakilan pemerintah China
, serta  perwakilan negara-negara
lain seperti Rusia, Australia dan Eropa.  

Di acara
bergengsi ini, BPG menampilkan be
berapa produk
batu bara
 andalan
asal Indonesia,
 antara lain BPG
47
 (NAR44),
BPG 42
 (NAR38), dan
BPG 38
 (NAR35).
Produk-produk BPG dengan tingkat kadar sulfur yang sangat rendah di bawah 1%
ini cocok untuk memenuhi
 kebutuhan konsumen di sektor industri China yang sangat peduli dengan kebersihan udara. Batu
bara BPG
 dipasok dari produsen batu bara yang
memiliki tambang di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

BPG memulai ekspor ke China
pada 2015 dengan volume
 
awal mencapai ratusan ribu ton per
tahun
. Setahun kemudian, ekspor ke China tumbuh mencapai 180%. Dan
p
ada akhir tahun 2017, secara kumulatifpertumbuhan
ekspor ke China akan
 
mencapai 310%. 

Volume ekspor ke China ini setara dengan 55% total volume ekspor batu
bara BPG dengan pasar utama
 
antara
lain,
 China, India, Vietnam, Filipina, Thailand, Korea Selatan dan Bangladesh.
Hingga kini BPG mampu me
layani
kebutuhan
 batu
bara dengan berbagai
 
jenis
kualitas.

Terus
Bertumbuh

Pada tahun
ini ekspor batu bara dari Indonesia ke China telah menghasilkan devisa senilai
US$1,68 miliar atau meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya US$1,03
miliar. Namun posisi Indonesia masih berada di bawah Australia yang pada tahun
ini nilai ekspornya telah mencapai US$6,51 miliar.

“Kualitas
batu bara kita nomor satu di China. Oleh sebab itu, mesti dimanfaatkan ajang
seperti CCME itu,” kata Atase Perdagangan Kedutaan Besar RI di Beijing,
Dandy Satria Iswara.

Menurut Dandy, kadar sulfur batu bara Indonesia
lebih bagus dibandingkan kompetitor utama dari Australia. China yang juga
menghasilkan batu bara dengan kadar sulfur tinggi sehingga menimbulkan polusi
sangat membutuhkan batu bara dari Indonesia sebagai bahan campuran dalam
menggerakkan sejumlah alat pembangkitan energi listrik.

Namun untuk batu bara ringan, pada tahun lalu,
Indonesia
 telah menjadi pengekspor nomor
satu dengan mencapai 87,48%.
 
 Rusia dan Mongolia terus menguntit
posisi Indonesia
, setelah
Korea Utara dikenai sanksi larangan ekspor akibat uji coba senjata nuklir.

Karena itu, kehadiran
BPG sebagai wakil Indonesia di CCME 2017 bisa memperkuat daya saing batu bara
asal Indonesia, tidak hanya di China namun juga untuk berekspansi lebih luas di
pasar Internasional.  

“Kami
berharap kehadiran kami akan membuka pintu kesempatan yang lebih besar lagi
untuk memasuki berbagai pasar internasional, sehingga bisa memberikan dampak
lebih besar bagi perekonomian Indonesia,”
kata Rendy. (TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sustainability Bond Tahap II Bank bjb, Catat Permintaan Hingga Rp932,4 Miliar

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) menawarkan Sustainability Bond Tahap II dengan permintaan investor telah mencapai...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img