BDx Data Centers mempercepat ekspansi bisnis pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia setelah mengantongi fasilitas pinjaman senilai US$320 juta atau setara Rp5,4 triliun. Pendanaan jumbo ini menjadi sinyal kuat kepercayaan industri perbankan terhadap prospek bisnis infrastruktur digital yang tengah menikmati lonjakan permintaan dari sektor AI dan komputasi awan.
Pembiayaan tersebut dipimpin oleh Bank Permata, Bank Central Asia (BCA), dan KB Bank. Masuknya tiga bank besar dalam transaksi ini menegaskan optimisme pasar terhadap strategi ekspansi jangka panjang BDx, khususnya di tengah tren pertumbuhan pusat data yang semakin agresif di Asia Tenggara.
Dana segar ini akan menjadi amunisi utama perusahaan untuk mempercepat pengembangan CGK3, kompleks pusat data yang difokuskan untuk kebutuhan AI di kawasan CBD Jakarta. Fasilitas yang telah beroperasi sejak September 2025 itu diposisikan sebagai salah satu tulang punggung infrastruktur digital generasi baru, menyasar kebutuhan komputasi berkepadatan tinggi dari perusahaan teknologi dan penyedia layanan hyperscale.
CGK3 menjadi salah satu kampus pusat data pertama di Jakarta yang mengusung teknologi liquid cooling, sebuah teknologi pendinginan yang kini menjadi standar baru bagi pusat data AI dengan kebutuhan daya sangat besar. Infrastruktur ini dirancang untuk menopang beban kerja GPU berkepadatan tinggi yang dibutuhkan untuk pengembangan model AI generatif dan komputasi skala besar.
Tak hanya untuk ekspansi, sebagian fasilitas pinjaman juga akan digunakan untuk refinancing dengan skema yang lebih kompetitif. Langkah ini diperkirakan akan memperkuat struktur keuangan perusahaan sekaligus meningkatkan efisiensi biaya modal di tengah belanja investasi yang terus membesar.
Selain itu, BDx juga mengalokasikan pendanaan untuk meningkatkan kapasitas jaringan tegangan tinggi di kampus Jatiluhur (CGK4) dan Suryacipta (CGK5) hingga mencapai 1,2 GVA. Dua fasilitas tersebut tengah dikembangkan untuk mengakomodasi permintaan yang terus meningkat dari pelanggan hyperscaler dan perusahaan AI asal Amerika Serikat maupun pasar regional.
CEO Mayank Srivastava menegaskan, pendanaan ini menjadi validasi kuat atas arah bisnis perusahaan di sektor infrastruktur digital masa depan.
“Pendanaan ini merupakan bentuk dukungan yang kuat terhadap visi BDx dan peran kami dalam mendorong pertumbuhan generasi masa depan yang didorong oleh teknologi digital dan AI di Asia,” ujar Mayank Srivastava.
“Dengan berinvestasi pada infrastruktur pendingin cair yang dioptimalkan untuk AI, platform daya tegangan tinggi, dan fasilitas kampus yang terus berkembang, kami tengah membangun infrastruktur generasi berikutnya untuk ‘AI Factories’ yang mendukung beban kerja GPU berkepadatan sangat tinggi.” tambahnya.
Di tengah percepatan adopsi AI dan cloud di Indonesia yang menjadi salah satu pasar digital paling dinamis di Asia Tenggara, langkah BDx ini mempertegas persaingan investasi pusat data yang semakin panas. Perusahaan tampak membidik momentum lonjakan kebutuhan komputasi dari pelaku teknologi global yang kini agresif memperluas jejak bisnisnya di kawasan.




