Minggu, Januari 25, 2026

Bernilai Investasi USD3,5 miliar, Industri Petrokimia Korsel Bakal Dibangun Pabrik Akhir 2018

Must Read

Moneter.co.id – Perusahaan industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte
Chemical Titan akan melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) untuk pembangunan pabrik yang memproduksi nafta
cracker pada akhir tahun 2018. Dengan nilai investasi yang rencananya mencapai
USD3,5 miliar, pabrik ini diharapkan dapat mendukung pengurangan impor produk
petrokimia hingga 60%.

“Nafta cracker selaku bahan baku petrokimia, kita memang
kurang sehingga masih impor. Tetapi setelah ini produksi, bisa disubstitusi.
Bahkan, pabrik ini juga akan menghasilkan ethylene,
propylene dan produk turunan lainnya.
Jadi, kita tidak akan impor lagi,” kata Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan
Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono di Jakarta, Jumat (18/5).

Hal itu disampaikannya seusai mendampingi Menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto pada pertemuan dengan Vice Chairman of Lotte
Group Huh Soo Young beserta delegasinya di Kementerian Perindustrian. Proyek
Lotte ini sejalan dengan upaya Pemerintah Indonesia yang tengah
memprioritaskan
akselerasi pertumbuhan industri petrokimia karena memenuhi kebutuhan produksi
di banyak sektor hilir.

Sigit menjelaskan, saat ini Lotte masih menyelesaikan
proses perizinan terkait pembebasan lahan, pembangunan pelabuhan, dan
pengurusan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). “Tanah yang sudah
tersedia sekarang seluas 100 hektare, tetapi mereka terus mencari tambahan
karena area yang akan dibangun terintegrasi untuk menghasilkan bermacam-macam
produk,” ungkapnya.

Ia menilai, masuknya investasi industri petrokimia di
sektor hulu ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan
produktivitas nasional, seiring berkembangnya pasar petrokimia di dalam negeri.

“Investasi industri upstream
memang sangat besar dan harus terpadu dengan produk turunan, karena kalau
berdiri sendiri tidak akan ekonomis, pasti gulung tikar,” ujarnya.

Pabrik Lotte yang akan dibangun di Cilegon, Banten ini
menargetkan total kapasitas produksi nafta cracker sebanyak 2 juta ton per
tahun. “
Apabila pabrik Lotte dan Chandra
Asri beroperasi pada tahun 2023, Indonesia bisa mengurangi impor produk
petrokimia hingga lebih dari 60%,” ucap Sigit.

PT
Chandra Asri Petrochemical Tbk juga berencana membangun kembali pabrik pengolah
nafta cracker kedua (CAP2) yang menelan investasi senilai USD 4-5 miliar.
Dengan tambahan investasi Lotte Chemical dan Chandra Asri tersebut, Indonesia
bakal mampu menghasilkan bahan baku kimia berbasis nafta cracker sebanyak 3
juta ton per tahun.

Bahkan, Indonesia bisa memposisikan sebagai produsen
terbesar ke-4 di Asean setelah Thailand, Singapura dan Malaysia.

Sebelumnya, Menperin Airlangga menuturkan, sedikitnya ada tiga
perusahaan yang telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam pengembangan
sektor industri petrokimia di Indonesia, yakni
PT Chandra Asri
Petrochemical Tbk., Lotte Chemical Titan, dan manufaktur
besar Thailand, Siam Cement Group (SCG).

“Mereka akan memproduksi kebutuhan bahan baku kimia
berbasis nafta cracker di dalam
negeri. Sehingga nanti kita tidak perlu lagi impor,” tegasnya.

Menurut Menperin, Indonesia berpotensi
menjadi pusat pertumbuhan industri petrokimia dan akan bisa lebih kompetitif di
tingkat Asean
dengan semakin meningkatnya investasi dan ekspansi dari
sejumlah produsen di dalam negeri.
“Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi negara tujuan
investasi seiring upaya pemerintah yang terus menciptakan iklim usaha
kondusif,” ungkapnya.

SCG berencana membangun fasilitas produksi nafta
cracker senilai USD5,5 miliar di Cilegon, Banten.
“Pabrik
petrokimia yang segera dibangun ini akan memiliki kapasitas produksi 1,2 juta ton
per tahun. Investasi ini menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai
tambah, hasil produksinya juga untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan
ekspor,” tutur Airlangga.

Kemenperin mencatat, nafta cracker dari produksi
industri nasional saat ini baru mencapai 900 ribu ton per tahun, sementara
permintaan dalam negeri sebanyak 1,6 juta ton.
Industri petrokimia
ditetapkan sebagai salah satu sektor hulu strategis karena menyediakan bahan
baku untuk hampir seluruh sektor hilir, seperti i
ndustri plastik, tekstil, cat, kosmetik hingga farmasi.

Oleh karena itu, keberlanjutan dalam pembangunan industri petrokimia
sangat penting bagi aktivitas ekonomi. “
Dengan
sifatnya yang padat modal, padat teknologi, dan lahap energi, pengembangan
industri petrokimia perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah,” jelas
Menperin.


 

(TOP)


- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Kawasaki W175 ABS dan W175 Street Kembali Hadir untuk Konsumen Indonesia

PT. Kawasaki Motor Indonesia kembali menghadirkan W175 ABS dan W175 STREET, dua model bergaya retro autentik yang menjadi bagian...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img