Moneter.co.id – Kepala Pusat Bantuan Hukum Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Riyatno menyatakan keberhasilan negosiasi antara Pemerintah
dengan PT Freeport Indonesia memiliki dampak pada iklim investor lainnya di
Indonesia.
“Kami
harapkan negosiasi Freeport dengan pemerintah bisa hasilkan solusi terbaik.
Keberhasilan negosiasi akan pengaruhi pandangan investor terkait iklim berusaha
di Indonesia,” kata Riyatno di Jakarta,
Rabu (11/10).
BKPM
tetap mengharapkan negosiasi berakhir “win
to win” atau sama-sama diuntungkan sehingga
investor lain juga akan merasa tenang terhadap investasinya ketika melihat
hasil perundingan dengan PT Freeport Indonesia.
Sebelumnya, Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong memaparkan ada lima keluhan
utama investor yang berinvestasi di Indonesia.
Ia
mengatakan keluhan utama para investor adalah regulasi yang kerap berubah. “Keluhan
nomor satu semua investor adalah regulasi. Ada sekitar 43 ribu peraturan mulai
dari Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Kepala Lembaga hingga
Peraturan Daerah itu berubah terus tanpa transisi lebih dahulu. Mungkin
kompetensi kita dalam membuat kebijakan perlu diperbaiki,” katanya.
Tom menjelaskan keluhan selanjutnya adalah mengenai pajak.
Menurut dia, pajak bukan sekadar tanggung jawab Kementerian Keuangan, dalam hal
ini Direktorat Jenderal Pajak, melainkan tanggung jawab bersama.
“Ini
tanggung jawab kita bersama, untuk bagaimana membangun sistem dan budaya
perpajakan yang fair. Jadi beban pajak jangan ke sektor industri saja,”
katanya.
Keluhan
berikutnya, lanjut Tom, adalah mengenai izin kerja terutama bagi warga negara
asing. Selain itu, urusan lahan yang perizinannya memakan waktu lama juga
menjadi keluhan lainnya.
“Di
banyak pemerintah daerah, IMB (Izin Mendirikan Bangunan) itu bisa
bertahun-tahun. Keluhan terakhir yakni soal infrastruktur yang dikeluhkan
terlalu banyak digarap BUMN. Yang ini baru belakangan muncul,” tuturnya.
Ia menuturkan,
minat investasi di Indonesia begitu tinggi terutama setelah kenaikan peringkat
Indonesia oleh lembaga riset dan pemeringkat dunia masuk kategori “layak
investasi”.
Pembangunan
infrastruktur di Indonesia yang gencar dilakukan juga, tambah dia, ikut
mendukung tingginya minat investasi.
(Tyo/Ant)




