Senin, Maret 2, 2026

BPJS Ketenagakerjaan dan ISSA Gelar Seminar Internasional Sikapi Revolusi Industri 4.0

Must Read

Moneter.co.id – Kemajuan teknologi terus berkembang dengan pesat, hal
ini berdampak bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka.
Kemunculan smartphone ataupun gadget dimanfaatkan oleh masyarakat pelaku usaha
untuk melancarkan bisnis mereka, selain untuk berkomunikasi. Bahkan tidak
sedikit pula yang beralih secara menyeluruh dengan melakukan digitalisasi
kegiatan usaha mereka.

Kondisi ini merupakan salah satu topik bahasan dalam
gelaran seminar internasional untuk menyikapi revolusi industri 4.0 untuk
mengantisipasi 10 tantangan Global yang direkomendasikan oleh International
Social Security Association (ISSA). Kondisi ini dikatakan disruptive atau
gangguan karena merubah tatanan perekonomian konvensional yang selama ini
berjalan.

Hal ini tentunya bukan hal yang buruk, namun justru
memberikan tantangan tersendiri, salah satunya dari sisi jaminan sosial. ISSA
merupakan organisasi internasional yang menaungi 330 organisasi jaminan sosial
dari 158 negara di seluruh dunia.

BPJS Ketenagakerjaan selaku tuan rumah dari Seminar
internasional yang digelar oleh ISSA ini bertempat di The Mulia Hotel, Nusa
Dua, Bali pada selasa, (6/2), dimana kegiatan ini merupakan langkah strategis
yang perlu ditempuh untuk dapat terus beradaptasi terhadap  perekonomian
global.

Ini merupakan salah satu seminar terbesar yang
dicanangkan oleh ISSA untuk mengumpulkan praktisi-praktisi jaminan sosial untuk
berbagi pengalaman dan pengetahuan agar bisa menghasilkan rekomendasi bagi para
pengambil kebijakan dan praktisi jaminan sosial.

Seminar ini dibuka oleh Bambang Brodjonegoro, Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional RI, sekaligus juga menjadi narasumber utama bersama
dengan Joachim Breuer, President of ISSA.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto
mengatakan bahwa saat ini perekonomian bergerak secara digital, dimana semua
orang mendapatkan kesempatan yang sama dan bisa bekerja tanpa mengenal batasan ruang
dan waktu.

“Semua bisa dilakukan dalam genggaman, baik itu
pekerja maupun pasar sasarannya. Semua menjadi semakin tidak terlihat, dan dari
sisi jaminan sosial tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri,” jelas
Agus diketerangan resmi yang diterima MONETER.co.id,
Rabu (27/02).

Agus menambahkan, disruptive
economy
ini selain membawa impact
serius pada tatanan perekonomian, juga membawa dampak dalam hal
ketenagakerjaan, hubungan industrial, keberlangsungan sistem jaminan sosial,
bahkan juga berdampak pada cara masyarakat berkomunikasi dan berinteraksi.

Seminar internasional ini dihadiri sebanyak 125
pemerhati jaminan sosial dari 30 negara bersama dengan 350 orang praktisi dan
pemerhati jaminan sosial di Indonesia.

Selain itu juga dilakukan penandatanganan kerjasama
strategis antara BPJS Ketenagakerjaan dengan DGUV (German Social Accident
Insurance) atau Lembaga Penyelenggara Jaminan Kecelakaan Kerja Jerman terkait
K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dan jaminan sosial.

“Semoga dengan terlaksananya seminar internasional
ini dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang membantu para pemangku
kepentingan jaminan sosial di seluruh dunia dalam menentukan langkah ataupun
kebijakan ke depan,”  tutup Agus.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pemerintah Tegaskan Perjanjian Dagang AS Tidak Tambah Kuota Impor Energi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan perjanjian perdagangan antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat tidak...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img