Moneter.id –
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya inflasi pada Mei 2021 sebesar
0,32 persen. Hal ini didukung karena adanya kenaikan permintaan pada bahan
makanan, untuk kebutuhan puasa dan Lebaran 2021.
Kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS
Setianto di Jakarta, Rabu (2/6), komoditas yang menyumbang andil inflasi adalah
daging ayam ras, tarif angkutan udara, daging sapi, jeruk, minyak goreng, emas
perhiasan, dan tarif angkutan antarkota.
“Komoditas lainnya yang juga mengalami inflasi pada
Mei antara lain nasi dengan lauk, tarif parkir, ayam hidup, tarif kereta api,
kelapa dan kentang,” ucapnya.
Lanjut dia, komoditas yang menekan pergerakan inflasi
dan menyumbang deflasi dalam periode ini antara lain komoditas cabai merah dan
cabai rawit.
“Cabai merah menyumbang andil deflasi sebesar
0,07 persen dan cabai rawit menyumbang andil deflasi 0,05 persen,” kata
Setianto.
Dari 90 kota IHK, sebanyak 78 kota mengalami inflasi
dan hanya 12 kota yang menyumbang deflasi pada Mei 2021.
Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,82
persen dan inflasi terendah terjadi di Tembilahan 0,01 persen. Sedangkan,
deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 0,83 persen dan deflasi terendah
terjadi di Palembang 0,02 persen.
“Inflasi tinggi di Manokwari dipengaruhi oleh
kenaikan tarif angkutan udara, bayam, ikan cakalang, ikan mumar, dan
kangkung,” ujar Setianto.
Dengan terjadinya inflasi pada Mei, maka inflasi tahun
kalender Januari-Mei 2021 tercatat sebesar 0,90 persen dan inflasi tahun ke
tahun (yoy) 1,68 persen.




