Moneter –
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) membukukan laba bersih sebesar Rp 3,02
triliun sepanjang tahun 2021. Capaian ini meningkat 38,45% dibandingkan tahun
2020 yang tercatat Rp 2,18 triliun.
“Raihan laba per saham perseroan menjadi Rp 73,69,
naik dari posisi tahun 2020 yang sebesar Rp 53,52,” tulis perseroan diketerangan
resminya, Senin (31/1/2022).
Tulisnya, pendapatan pengelolaan dana sebagai mudharib
tumbuh 5,1% menjadi Rp 17,80 triliun. Tapi, hak pihak ketiga atas bagi hasil
turun 12,5% menjadi Rp 4,37 triliun.
“Sehingga hak bagi hasil milik bank tumbuh 12,61%
menjadi Rp 13,42 triliun,” tulisnya.
Sementara
itu, beban usaha emiten dengan sandi BRIS ini mencapai Rp8,78 triliun pada 2021
atau lebih tinggi dibanding 2020, yakni Rp 7,96 triliun. Jumlah cadangan
kerugian penurunan nilai (CKPN) aset produktif dan nonproduktif sebesar Rp 3,55
triliun. Adapun jumlah zakat yang disalurkan perseroan pada 2021 sebesar
Rp 101,68 miliar, sementara beban pajak sebesar Rp 932,32 miliar.
Dari sisi pembiayaan, perseroan mampu menyalurkan
pembiayaan senilai Rp 170,78 triliun, naik 9,29% secara tahunan (yoy).
Peningkatan itu disumbang dari Piutang Murabahah Rp 101,18 triliun dan
Pembiayaan Bagi Hasil Musyarakah Rp 57,55 triliun. Pertumbuhan pembiayaan
disertai dengan kualitas aset yang masih terjaga. Rasio non performing financing (NPF)
stabil di level Rp 2,93%.
Kemudian,
rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR)
mencapai 22,09% dan pengembalian atas aset (RoA) naik dari 1,38% menjadi 1,61%.
Di mana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,11% yoy dari Rp 209,90 triliun menjadi
Rp 233,24 triliun.
“Aset perseroan tercatat meningkat 10,72 persen dari
Rp 239,58 triliun menjadi Rp 265,28 triliun,” tulisnya lagi.




