Perusahaan teknologi asal Tiongkok, ByteDance, mulai meluncurkan model kecerdasan buatan (AI) terbarunya, Seedance 2.0, ke pasar global. Teknologi ini sebelumnya diperkenalkan di China dan langsung menarik perhatian karena kemampuannya menghasilkan video berkualitas mendekati standar Hollywood hanya dari perintah teks sederhana.
Melalui platform editing video CapCut, ByteDance mengumumkan Seedance 2.0 kini mulai tersedia di sejumlah wilayah seperti Afrika, Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Asia Tenggara, dengan rencana ekspansi ke lebih banyak negara dalam waktu dekat. Namun, akses awal hanya diberikan kepada sebagian pengguna berbayar.
Meski menawarkan inovasi besar, kehadiran Seedance 2.0 juga memicu kekhawatiran, terutama terkait potensi pelanggaran hak cipta. Sejumlah studio besar seperti Disney, Paramount, Warner Bros, dan Netflix bahkan dilaporkan mempertimbangkan langkah hukum terhadap ByteDance atas dugaan pelanggaran kekayaan intelektual.
Menanggapi hal tersebut, CapCut menyatakan pihaknya telah menerapkan “pengamanan ketat” untuk mencegah penyalahgunaan, termasuk penggunaan tanpa izin atas wajah individu maupun konten berhak cipta. Meski demikian, belum jelas apakah ByteDance telah menyelesaikan seluruh persoalan hukum yang muncul, terutama karena Amerika Serikat belum termasuk dalam wilayah peluncuran.
Langkah ini juga mencerminkan ambisi besar ByteDance dalam mengembangkan teknologi AI, di tengah meningkatnya pengawasan global terhadap platform digital seperti TikTok dan Douyin yang berada di bawah naungannya.
Di sisi lain, industri AI secara global juga tengah bergerak menuju pengembangan teknologi yang lebih “agentic”, yakni AI yang mampu menjalankan tugas nyata secara mandiri. Tren ini turut terlihat dari keputusan OpenAI yang menghentikan layanan video AI konsumennya, Sora, untuk lebih fokus pada solusi berbasis bisnis.




