Senin, Maret 2, 2026

Catatkan Rekor Bulanan Tertinggi, Ekspor Nonmigas Juli 2018 Capai USD 14,81 Miliar

Must Read

Moneter.id – Ekspor nonmigas Indonesia bulan Juli 2018 tercatat
sebesar USD 14,81 miliar atau meningkat 19,0% dibanding bulan yang sama tahun
lalu (YoY). Capaian nilai ekspor ini adalah yang tertinggi hingga pertengahan
2018, bahkan hampir menyamai capaian nilai ekspor bulanan tertinggi dalam tujuh
tahun terakhir, yaitu USD 14,82 miliar di tahun 2011.

“Kinerja ekspor bulan Juli 2018 menunjukkan sinyal
positif dalam upaya pencapaian target ekspor yang telah ditetapkan pemerintah,”
ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Kamis (23/8).

Lebih lanjut, Mendag menyampaikan bahwa secara kumulatif
ekspor nonmigas Januari–Juli 2018 mencapai USD 94,21 miliar. Nilai ini tumbuh
11,1% dibanding periode yang sama tahun 2017 (YoY) yang sebesar USD 84,83
miliar. Pencapaian kinerja ekspor tersebut memperkuat optimisme pencapaian
target pertumbuhan ekspor nonmigas 11% tahun ini.

Beberapa komoditas utama ekspor nonmigas yang
berkontribusi terbesar terhadap peningkatan ekspor Januari–Juli 2018 adalah
bijih, kerak, dan abu logam (HS 26); besi dan baja (HS 72); bubur kayu/pulp (HS
47); berbagai produk kimia (HS 38); dan benda-benda dari besi dan baja (HS 73).

Kenaikan ekspor beberapa komoditas tersebut disebabkan
oleh menguatnya harga ekspor, terkecuali untuk komoditas bijih, kerak, dan abu
logam (HS 26). Menguatnya harga ekspor terindikasi dari adanya kenaikan nilai
ekspor yang lebih besar dari kenaikan volumenya.

Lebih jauh, Mendag menyampaikan, bahwa ekspor ke China,
Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Taiwan berkontribusi signifikan terhadap
peningkatan ekspor nonmigas Januari–Juli 2018. Naiknya ekspor ke negara-negara
ini didukung oleh peningkatan permintaan pasar dalam negeri mereka.

Peningkatan impor bulan Juli merupakan respons terhadap
kebutuhan industri nasional untuk pemenuhan ekspor dan kebutuhan di dalam
negeri. Total impor bulan Juli 2018 mencapai USD 18,27 miliar, atau naik 31,5%
dari Juli 2017 (YoY) yang sebesar USD 16,24 miliar.

Dibanding Juli 2017, impor barang konsumsi Juli 2018 naik
60,8% menjadi USD 1,72 miliar. Sementara itu, impor bahan baku/penolong dan
barang modal masing-masing naik 30,1% menjadi USD 13,68 miliar dan naik 24,8%
menjadi USD 2,88 miliar.

“Bahwa secara kumulatif total impor Januari–Juli 2018
mencapai USD 107,32 miliar, naik 24,5% dari Januari–Juli 2017 (YoY) yang
sebesar USD 86,22 miliar,” ucap Mendag.

Peningkatan nilai impor tersebut didorong oleh kenaikan
impor seluruh klasifikasi barang. Barang modal naik 30,4%, bahan baku/penolong
naik 23,0%, serta barang konsumsi naik 27,0% (YoY).

Barang konsumsi yang impornya meningkat signifikan antara
lain adalah alat angkutan bukan untuk industri; dan barang konsumsi tidak tahan
lama seperti pendingin ruangan serta makanan dan minuman olahan untuk rumah
tangga. Sedangkan untuk barang modal, yang impornya naik adalah alat angkutan
untuk industri dan barang modal bukan berupa alat angkutan.

Tingginya permintaan impor yang naik lebih besar daripada
kenaikan ekspor mengakibatkan neraca perdagangan bulan Juli 2018 mengalami
defisit sebesar USD 2,03 miliar.

Defisit tersebut bersumber dari defisit perdagangan migas
sebesar USD 1,19 miliar dan defisit perdagangan nonmigas sebesar USD 842,2
juta.

Tingginya defisit perdagangan bulan Juli 2018 membuat
defisit neraca perdagangan selama Januari–Juli 2018 mencapai USD 3,09 miliar.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Jakarta Sharia Festival 2026 Perkuat Ekosistem Modest Fashion

Hijabersmom Community hari ini secara resmi mengumumkan peluncuran Jakarta Sharia Festival (JSF) 2026, sebuah perhelatan gaya hidup syariah terbesar...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img