Moneter.id – Menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, berdasarkan peta jalan Making
Indonesia 4.0, industri kimia merupakan satu dari lima sektor yang akan menjadi
pionir dalam penerapan industri 4.0 di Tanah Air. Oleh karena itu, industri
kimia mendapat prioritas pengembangan agar lebih produktif, inovatif, dan kompetitif
di kancah global.
“Contohnya,
industri petrokimia, sektor hulu yang berperan strategis dalam menunjang
berbagai kebutuhan produksi di sejumlah manufaktur hilir,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (2/8).
Produk
yang dihasilkan oleh industri petrokimia, antara lain digunakan sebagai bahan
baku di industri plastik, tekstil, cat, kosmetik dan farmasi.
Airlangga
menyebutkan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Menteri
Energi dan Industri Uni Emirat Arab (UEA) Suhail Mohamed Faraj Al Mazrouei.
Pada kesempatan itu dibahas rencana investasi perusahaan asal UEA, Mubadala.
“Mereka mau bergabung dalam pengembangan industri petrokimia bersama
PT Chandra Asri Petrochemical
dalam Proyek CAP 2,” ujarnya.
Mubadala berkomitmen akan melakukan investasi
sebesar USD2,5 miliar. Nilai
investasi ini merupakan setengah dari total nilai investasi yang diperlukan untuk
mengembangkan fasilitas baru yang akan memproduksi olefin dan polyolefin, yang diharapkan dapat
mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.
Selanjutnya, China Petroleum
Corporation (CPC) Taiwan juga berencana menggelontorkan dananya di Indonesia melalui
kerja sama dengan PT Pertamina (persero). Saat ini, pemerintah menunggu tindak
lanjut negoisasi kedua perusahaan tersebut untuk pengembangan komplek industri petrokimia
terpadu di Balongan, Indramayu, Jawa Barat.
“Kami
masih menunggu pembicaraan business to business (b-to-b) antara Pertamina
dan CPC. Investasi mereka sekitar USD8,62 miliar,” imbuhnya.
Menperin
optimistis, dengan nanti beroperasinya sejumlah pabrik petrokimia skala raksasa
di Tanah Air, bakal mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik yang besar.
“Saat
ini, industri di Indonesia menyerap produk petrokimia dan turunannya sebanyak lima
juta ton per tahun. Jumlah ini terus tumbuh. Pabrik-pabrik itu akan beroperasi secara
bertahap. Mereka baru selesai sekitar tahun 2023-2025. Dengan demikian, industri
petrokimia kita bisa tumbuh lebih baik lagi,” paparnya.




