House of Tugu Old Town Jakarta resmi membuka De Tiger, sebuah Far East Speakeasy Bar yang berlokasi di kawasan bersejarah Kali Besar Barat, Jakarta Barat. Mengusung konsep bar rahasia dengan nuansa Batavia Lama, De Tiger menawarkan pengalaman menikmati koktail, kuliner, dan musik yang dipadukan dengan kisah sejarah maritim Nusantara.
Berbeda dari speakeasy pada umumnya, De Tiger mengangkat atmosfer pelabuhan Sunda Kelapa pada masa kejayaannya, ketika pedagang rempah, pelaut, penjelajah, dan saudagar dari berbagai penjuru dunia bertemu di Batavia. Konsep tersebut diwujudkan melalui desain interior, koleksi barang antik, karya seni, hingga racikan minuman yang masing-masing memiliki cerita sejarah.
Nama De Tiger diambil dari kisah nyata Merem, seekor harimau Jawa bermata satu yang diselamatkan pada awal abad ke-20 oleh Raden Adjeng Kasinem, istri pertama pengusaha ternama Oei Tiong Ham. Setelah dibebaskan dari rencana eksploitasi, Merem dirawat di bangunan yang kini menjadi House of Tugu Old Town Jakarta sebelum akhirnya menghabiskan sisa hidupnya di Semarang. Kisah tersebut menjadi inspirasi utama lahirnya De Tiger sebagai simbol kebebasan, ketangguhan, dan pelestarian sejarah.
Co-Owner Tugu Hotels and Restaurants, Lucienne Anhar, mengatakan De Tiger merupakan penghormatan terhadap Batavia sebagai kota pelabuhan kosmopolitan yang mempertemukan budaya Timur dan Barat. Melalui setiap sudut ruangan, koktail, hingga koleksi antiknya, De Tiger ingin mengajak para tamu merasakan kembali romantisme, misteri, dan semangat petualangan yang pernah mewarnai Jakarta pada masa lampau.
Menu koktail di De Tiger dibagi ke dalam tiga tema utama, yakni The Journey of Merem, The Trader’s Table, dan The Spice Market. Beberapa racikan andalan seperti 100 Karung Kopi, Taman Merem, Gujarat, Hadrami, hingga Nagasaki menghadirkan interpretasi modern dari kisah perdagangan rempah dan perjalanan lintas budaya yang pernah terjadi di Nusantara.
Tak hanya minuman, De Tiger juga menawarkan pengalaman kuliner yang terinspirasi dari warisan gastronomi Sunda Kelapa. Hidangan seperti Saudagar’s Platter, yang berisi kroket kepiting, bakwan jagung manis, dan sate lilit kakap mini, menjadi simbol perpaduan cita rasa Asia, Timur Tengah, dan Eropa yang membentuk identitas kuliner Batavia.
Suasana malam di De Tiger semakin lengkap dengan kurasi musik yang berubah setiap hari. Pengunjung dapat menikmati perpaduan jazz, downtempo, Organic House, Afro House, Tribal House, hingga Melodic House yang diperkaya unsur musik tradisional Indonesia seperti petikan keroncong dan vokal Nusantara. Ke depan, De Tiger juga akan menghadirkan penampilan musisi dan DJ tamu serta malam budaya bertema Batavia Lama, Shanghai Lama, India, Timur Tengah, Nusantara, hingga Jepang, menjadikannya destinasi baru bagi pencinta sejarah, seni, dan kehidupan malam di Jakarta.




