Moneter.id – PT Daur Ulang Industri Terpadu (aplikasi Octopus)
bekerjasama dengan Festival F8 di Makassar yang berlangsung pada 11 – 13
Oktober 2019 lalu menunjukkan kepada masyarakat setempat cara termudah mengubah
sampah non-organik menjadi barang yang bernilai rupiah.
Selama pelaksanaan F8, masyarakat Kota Makassar dan
sekitarnya bisa membawa sampah non-organik dari rumah dan menjadikannya sebagai
tiket masuk ke arena F8. Selain itu, hanya dengan mengunduh aplikasi Octopus
masyarakat juga bisa masuk ke arena F8 tanpa biaya apa pun.
Andi Moehammad Ichsan, CEO Aplikasi Octopus menjelaskan,
konsep membawa sampah ini juga merupakan upaya untuk mengajak masyarakat
mereduksi sampah plastik yang mereka gunakan.
Baca juga: Dukung Kinerja Bank Sampah, Pemkot Makassar Gandeng Octopus
“Jika pengunjung tidak membawa sampah, maka akan
dikenakan ‘denda’ sebesar Rp 20.000 untuk membeli tiket masuk arena F8.
Sampah-sampah yang sudah dikumpulkan nanti akan kami distribusikan kepada
jaringan Unit Bisnis Sampah Octopus,” ucap Ichsan.
“Diharapkan, dengan konsep membawa sampah ini,
pengunjung bisa memulai untuk memilah sendiri sampah non-organik mereka, sebuah
gerakan sederhana yang bisa dimulai dari rumah, kost-an ataupun kantor untuk
membantu pemulung maupun satgas dalam mengumpulkan sampah,” ujar Ichsan.
Selama pelaksanaan acara F8, total sampah plastik yang
sudah tereduksi kurang lebih berjumlah 350 kg dengan total 10.000 pengunjung.
Sementara, presenter dan aktor
berkebangsaan asal Australia, Hamish Daud mengungkapkan, melalui
aplikasi Octopus, kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat sampah sebagai
barang yang masih memiliki nilai ekonomi dan bahkan bisa menjadi sumber pendapatan
yang bisa membiyai gaya hidup mereka.
“Aplikasi Octopus akan menghubungkan konsumen
atau user yang sudah mengumpulkan sampah plastik mereka
dengan scavenger Octopus, baik itu pemulung, unit bisnis
sampah maupun satuan tugas (satgas) yang kemudian membawa sampah tersebut
kepada pengepul seperti pengusaha plastik ataupun Bank Sampah,” ujarnya.
Menurutnya, sampah yang dikumpulkan oleh
konsumen akan dikonversikan menjadi poin yang bisa ditukar menjadi uang tunai
melalui proses tarik tunai di dalam aplikasi Octopus dan juga voucher menarik
seperti voucher ngopi di coffee shop yang
sudah bekerja sama dengan Octopus.
Sementara untuk scavenger, lanjut Hamish
mereka akan mendapatkan insentif dari jarak pengambilan dan jumlah sampah yang
diambil.
“Trend ngopi yang belakangan ini
sudah menjadi salah satu lifestyle,khususnya untuk generasi
milenial, ternyata bisa dibiayai hanya dengan mengumpulkan sampah non-organik
yang telah mereka pakai. Insentif ini menjadi salah satu strategi pendekatan
Octopus kepada generasi millenials, mengingat sudah banyak generasi millenial
yang peduli lingkungan,” lanjut Hamish.
Adapun visi aplikasi Octopus dalam mendistribusikan
sampah dari user sampai ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) untuk
mereduksi sampah non-organik sejalan dengan target pemerintah untuk
mengelola sampah non-organik 100% pada 2025, yang mana dalam upaya meraih
target tersebut dengan melakukan pengurangan (reduksi) sampah sebesar 30% dan
penanganan (daur ulang/recycle) sampah sebesar 70%.




