Moneter.id – Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), Kementerian Perdagangan menggelar seminar “Peluang dan Potensi Ekspor ke Pasar Amerika dan Eropa” kepada para
pelaku UKM, Senin
(15/07). Seminar
ini untuk meningkatkan pemahaman dan informasi terkait selera pasar, tren, dan kriteria produk yang memiliki peluang di pasar ekspor.
“Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha Indonesia agar
memiliki tambahan pengetahuan dan informasi yang baru dari pengalaman dan ilmu dari para tenaga ahli,” tambah Marolop Nainggolan, Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor selaku penanggung jawab kegiatan.
Lebih jauh, Marolop menambahkan bahwa, Kementerian Perdagangan menjalin kemitraan dengan organisasi pemerintah dan non-pemerintah di
luar negeri untuk meningkatkan kapasitas para pelaku usaha dan akses informasi terkait regulasi, persyaratan,
tren, dan preferensi pasar tujuan ekspor.
“Berbagai kerjasama tersebut dijalin untuk memberikan manfaat kepada pengusaha Indonesia
agar dapat mengembangkan bisnis keluar negeri,” kata Marolop.
Sementara, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Arlinda menyatakan,
bahwa Ditjen
PEN akan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan untuk mengejar target
pertumbuhan ekspor
non-migas Indonesia 2019 yang telah ditetapkan sebesar 7,5% atau menjadi US$ 175 miliar.
Seminar
ini adalah salah satu cara untuk memberikan jalan bagi para pelaku usaha untuk mempertimbangkan pasar Amerika dan Eropa sebagai tujuan ekspor produknya.
Selain itu, para pelaku usaha perlu mengembangkan produk Indonesia yang
bernilai tambah dan berdaya saing agar aktivitas ekspor Indonesia lebih member manfaat terhadap neraca perdagangan Indonesia.
Salah
satu poin dari seminar bahwa dalam melakukan ekspor ke Eropa dan Amerika, eksportir dipersyaratkan memenuhi prosedur dan persyaratan yang
dirasa rumit.
Pada tahun 2018 neraca perdagangan Indonesia
mengalami defisit sebesar US$ 8,69 miliar dengan komposisi impor migas sebesar US$ 12,69
miliar dan ekspor non-migas
Indonesia hanya sebesar
US$ 3,99 miliar.
Ekspor
Indonesia pada periode tersebut mengalami pertumbuhan 1,62% di
mana pertumbuhan ekspor
non-migas mengalami peningkatan sebesar 3,76%
sedangkan ekspor migas mengalami penurunan sebesar 12,04% periode
yang sama.
Impor
Indonesia pada periode tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 2,13% di mana
produk non-migas juga mengalami pertumbuhan sebesar 4,56% dan impor migas turun sebesar 7,34%.
“Memperhatikan situasi ini, Kementerian Perdagangan memandang perlu memberikan bimbingan kepada para pelaku khususnya UKM untuk dapat meningkatkan kapasitas dalam menggarap pasar tujuan ekspor,” kata Marolop.
Seminar
ini diikuti oleh 170 orang pelaku usaha (UKM) dari berbagai sektor seperti industri home decor, herbal danr empah-rempah,
makanan-minuman, dan alas kaki yang berasal dari wilayah Banten, Jawa Barat dan
Jakarta.
Para
pembicara dan pembimbing berasal dari ahli di bidang promosi, pasar, tren,
maupun packaging dari CBI Belanda, TPSA
Canada, Arise Project Europe.




