Selasa, Maret 31, 2026

Dukung PP Tunas, Betadine Dorong Orang Tua Dampingi Anak Tumbuh Berani dan Aktif

Must Read

Betadine bersama iNova Pharmaceuticals menyambut implementasi PP Tunas sebagai langkah strategis dalam melindungi anak di ruang digital, terutama melalui pembatasan akses media sosial di usia dini. Kebijakan ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak paparan layar berlebih, mulai dari gangguan fokus, keterlambatan perkembangan sosial, hingga risiko kesehatan mental pada anak. Betadine menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal di era digital.

PP Tunas juga menjadi momentum untuk melengkapi pendekatan dari sekadar membatasi menjadi mendampingi. Anak perlu terpapar pada pengalaman di ruang terbuka untuk bermain, bergerak, dan bereksplorasi, yang menjadi pondasi penting bagi perkembangan fisik, kognitif, dan emosional. Dengan keseimbangan antara perlindungan dan eksplorasi, anak dapat tumbuh lebih percaya diri, tangguh, dan berani lebih aktif.

Di sela-sela acara Bocil Approved Competition Push Bike Race yang diadakan Betadine hari Sabtu, 28 Maret 2026, Anastasya Ratu Chaerani, Brand Manager Wound Care iNova Pharmaceuticals Indonesia, menyampaikan bahwa aktivitas bermain aktif menjadi bagian penting dalam proses belajar anak melalui pengalaman nyata, “Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan dorongan alami untuk mencoba hal baru. Di sini peran orang tua bukan sekadar membatasi, tetapi mendampingi, dengan memberikan ruang yang aman dan dukungan penuh agar anak dapat bereksplorasi, belajar, dan bertumbuh dengan percaya diri. Kami percaya pada lahirnya Generasi Bening, yakni generasi yang berani mencoba, aktif bereksplorasi, dan berani berkembang. Untuk itu, dibutuhkan keberanian orang tua untuk memberi ruang sekaligus perlindungan yang tepat.”

Sejalan dengan semangat PP Tunas, anak-anak kini didorong untuk tidak hanya terlindungi secara digital, tetapi juga aktif di dunia nyata melalui pengalaman yang lebih bermakna. Aktivitas seperti push bike menjadi contoh nyata bagaimana anak mengembangkan koordinasi motorik, membangun keberanian untuk mencoba, belajar bangkit setelah jatuh, serta menumbuhkan rasa percaya diri sejak dini. Pada dasarnya, anak belajar melalui pengalaman langsung untuk belajar mencoba dan bangkit kembali, hingga menjadi bagian alami dan penting dari proses tumbuh kembang mereka.

dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A, Dokter Anak dan juga dikenal sebagai MomDoc, menjelaskan,  “Pembatasan screen time melalui PP Tunas adalah langkah penting, karena paparan layar yang berlebihan pada anak dapat berdampak pada berbagai aspek tumbuh kembang, mulai dari keterlambatan perkembangan motorik, gangguan fokus, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial. Namun, yang tidak kalah penting adalah apa yang menggantikan waktu tersebut. Anak membutuhkan aktivitas fisik dan eksplorasi nyata untuk merangsang perkembangan otak, membangun koordinasi tubuh, serta melatih regulasi emosi dan kepercayaan diri. Active play bukan hanya soal bermain, tetapi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Di sinilah peran orang tua menjadi krusial, bukan untuk membatasi, tetapi mendampingi dan memastikan anak dapat bereksplorasi dengan aman.”

Seiring anak semakin aktif bereksplorasi melalui interaksi dan pengalaman langsung, risiko kecil seperti terjatuh atau mengalami luka ringan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mereka. Namun, menurut ahli, kondisi ini merupakan hal yang wajar dan tidak seharusnya membuat orang tua membatasi ruang eksplorasi anak. Dengan pemahaman dan kesiapan yang tepat, orang tua tetap dapat mendampingi anak bermain dengan rasa tenang.

dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A menjelaskan kembali bahwa respons orang tua justru menjadi faktor penting saat anak mengalami luka. “Dunia anak adalah bermain dan bereksplorasi. Jatuh dan terluka adalah satu paket yang pasti terjadi. Yang pertama perlu dilakukan bukan hanya merawat lukanya, tetapi orang tuanya harus tetap tenang terlebih dahulu, karena anak merespons reaksi orang di sekitarnya,” jelasnya.

Untuk membantu orang tua menangani luka ringan anak aktif, dr. Kanya merekomendasikan Metode 4C yakni: Chill (tetap tenang), Clean & Disinfect (bersihkan dan gunakan antiseptik), Cover (tutup luka), dan Comfort (jaga kenyamanan anak). Pendekatan ini membantu orang tua merespons luka dengan tepat sekaligus membangun rasa aman agar anak dapat kembali beraktivitas.

Dokter Kanya menambahkan bahwa perawatan luka dengan tepat dapat dilakukan melalui menjaga kebersihan sekaligus kelembapan luka menggunakan antiseptik yang nyaman di kulit anak. “Antiseptik Bening dengan kandungan Octenidine memberikan perlindungan ganda terhadap bakteri dan jamur tanpa merusak jaringan sehat serta tidak perih, sementara Allantoin memiliki sifat anti-inflamasi untuk membantu melembapkan serta mendukung proses penyembuhan pada kulit anak yang cenderung lebih sensitif, sehingga menjadi antiseptik yang lembut dan Bocil Approved pada kulit anak,” tambah dr. Kanya.

Sebagai inovasi terbaru dari Betadine yang telah dipercaya keluarga Indonesia selama lebih dari 50 tahun, Betadine Bening Antiseptik hadir untuk mendukung orang tua dalam merawat luka anak dengan lebih nyaman. Dengan formula bening, tidak perih, dan dapat digunakan pada kulit sensitif anak dan bayi, Betadine Bening Antiseptik membantu menciptakan pengalaman perawatan luka yang lebih nyaman sehingga anak tidak trauma saat dirawat dan dapat kembali aktif bermain.

Melalui inisiatif Generasi Bening dengan aktivitas Bocil Approved Competition Push Bike Race dan program edukasi lainnya, Betadine mengajak orang tua untuk melihat eksplorasi sebagai bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Dengan pendampingan yang tepat serta kesiapan menghadapi risiko kecil sehari-hari, anak dapat belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh, percaya diri, dan berani mencoba hal baru sejak dini, sejalan dengan semangat menghadirkan Generasi Bening yang aktif dan berani bereksplorasi.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BlueScope Indonesia Dukung Pembangunan OHANA Training Center untuk Disabilitas

Perkumpulan OHANA resmi membuka kantor dan warehouse baru bernama OHANA Training Center di Sleman, Yogyakarta, Senin (30/3/2026). Fasilitas ini dirancang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img