Minggu, Maret 1, 2026

Ekonomi Digital Buka Peluang Penumbuhan Wirausaha Industri Baru

Must Read

Moneter.id – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya wirausaha
indusri baru dalam menyambut peluang era ekonomi digital. Hal ini merupakan
salah satu implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, baik itu melalui
pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) maupun mendorong tumbuhnya Sumber
Daya Manusia (SDM) terampil.

“Era ekonomi digital ini memberikan peluang tak
terbatas bagi para entrepreneur.
Kalau berdasarkan pengalaman di era revolusi industri ketiga, yang menjadi entrepreneur itu hanya mereka yang
usianya sudah 39 tahun ke atas. Tetapi dengan ekonomi digital, yang
sudah
menjadi entrepreneur, usianya bisa
lebih muda lagi sekitar 20 tahun,” kata Menteri Perindustrian Airlangga
Hartarto di Jakarta,
Jumat (5/4).

Airlangga mencontohkan, saat ini Indonesia sudah
mempunyai
empat unicorn
atau perusahaan rintisan (startup)
yang nilai valuasinya lebih dari USD1 miliar. Tiga di antaranya diciptakan oleh
anak muda Indonesia.

“Kalau kita lihat Bukalapak, diciptakan
oleh dua sampai tiga orang anak muda dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pendiri Tokopedia juga masih muda. Bahkan, salah satu startup yang berpotensi menjadi unicorn
baru ternyata diciptakan oleh mahasiswa,” paparnya.

Untuk menumbuhkan startup
baru serta memacu pembangunan industri digital di Tanah Air, pemerintah
mendukung program Apple Developer Academy yang telah meluluskan 166 wisudawan.
Mereka merupakan mahasiswa yang mengikuti program pengembangan aplikasi berbasis
sistem operasi iOS selama satu tahun, dan telah menghasilkan program yang sudah
bisa dilihat di App Store.

“Menariknya, lulusan Apple Developer Academy ini sudah
world class, setara dengan lulusan di
Silicon Valley, Amerika Serikat. Setelah lulus dari program ini, mereka bisa
memilih untuk bekerja di Apple atau menjadi entrepreneur,
karena program yang mereka buat langsung bisa dijual di App Store. Sekarang
Apple Developer Academy membuka gelombang kedua dengan peserta lebih dari 200
orang, dengan background macam-macam,
tidak hanya dari teknologi informasi,” ungkapnya.

Airlangga mengemukakan, fasilitas Apple Developer
Academy
tersebut sudah dibuka di BSD City, Tangerang, Banten. Ini menjadi yang pertama di Asia dan ketiga di dunia
setelah Brasil dan Italia. Selanjutnya,
Apple Developer Academy akan
dibangun
di Surabaya dan Batam.

Selama
mengikuti pelatihan, 166 siswa tersebut telah menghasilkan 33 aplikasi yang
sudah tersedia di App Store. Beberapa di antaranya aplikasi soal donor darah,
aplikasi mencari masjid terdekat, aplikasi AI untuk mencari pekerjaan, hingga
aplikasi tentang travelling.

“Saya sudah menjumpai kelompok yang membuat lima software unggulan. Salah satu dari
mereka mendapat inspirasi dari kerja bersama. Misalnya, mereka membuat aplikasi
untuk bantu menemukan donor darah yang tepat saat keadaan darurat. Aplikasi ini
sangat luar biasa, dihasilkan oleh anak-anak Indonesia. Ini adalah contoh dari
perkembangan ekonomi digital,” imbuhnya.

Lebih jauh, Airlangga menegaskan, aspirasi besar dari pengembangan ekonomi digital
dan
revolusi industri 4.0 adalah untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Diproyeksikan, di tahun 2030, Indonesia menjadi negara 10 besar dengan perekonomian terkuat di dunia.

“Sekarang
kita nomor 16 di dunia, dan pada 2030 Indonesia
akan
lolos dari middle income trap. Nanti
Indonesia bisa disebut upper middle
income country
, sekarang masih masuk lower
middle income countr
y, tetapi tahun depan sudah masuk middle income country,”
ungkapnya.

Dengan implementasi industri 4.0, menurut
Airlangga, pertumbuhan ekonomi akan naik satu hingga dua persen, kemudian bisa
membuka 17 juta tambahan lapangan pekerjaan. “Itu berdasarkan studi dari
McKinsey, dan dari 17 juta itu, sebanyak 4 juta akan berada di sektor industri,
sisanya ada di sektor jasa penunjang industri, sehingga itu peluang sangat
terbuka untuk kita,” tegasnya.

Upaya yang dilakukan Kemenperin untuk
mendorong wirausaha atau IKM dalam era ekonomi digital
, antara lain dengan memfasilitasi produk-produknya bisa masuk ke pasar e-commerce melalui program e-Smart IKM yang telah dicanangkan sejak 2017 lalu.

Selain itu, Kemenperin memacu tumbuhnya wirausaha
industri baru dari kalangan pondok pesantren melalui pelaksanaan program
Santripreneur. Menurut Airlangga, kalangan pesantren atau santri memiliki
komunitas tersendiri.

Pondok pesantren juga memiliki potensi pemberdayaan
ekonomi, mengingat sudah banyak pondok pesantren yang mendirikan koperasi,
mengembangkan berbagai unit bisnis atau industri berskala kecil dan menengah,
serta memiliki inkubator bisnis.

“Seluruh potensi ini merupakan modal yang cukup kuat
dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan langkang konkretnya, Kemenperin
mendorong misalnya di Pesantren Muhammadiyah Sragen, kami bantu untuk
memproduksi roti. Dengan demikian, ekosistem ekonomi berjalan dan terjadi
pengembangan entrepreneurship di
pesantren,” tegasnya.

Airlangga menambahkan, selain di Sragen, Jawa Tengah,
program Santripreneur juga sudah berjalan di beberapa daerah lain seperti di
Bogor, Jawa Barat. “Santripreneur diharapkan menghidupkan ekosistem ekonomi di
lingkungan pesantren, sehingga bisa memenuhi kebutuhan para santri sekaligus
menjadi unit usaha yang terus berkembang,” pungkasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sambut Ramadan 2026, Grand Travello Hotel Bekasi Hadirkan Showcase Kuliner dan Paket Spesial

Grand Travello Hotel menggelar Ramadan Showcase 2026 sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berkualitas bagi masyarakat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img