Deputy Director Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, R. Eko Adi Irianto, mengungkapkan kinerja ekonomi syariah Indonesia hingga Juni 2026 menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai tantangan global. Ia menyebut sektor unggulan seperti makanan halal dan pariwisata ramah muslim mencatat pertumbuhan sebesar 6,2%, melampaui pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional yang mencapai 5%.
Selain itu, sektor perbankan syariah juga menunjukkan performa positif dengan pertumbuhan pembiayaan mencapai 11,4% secara tahunan. Menurut Eko, capaian tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi berbasis syariah yang terus berkembang dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, Eko mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan ekonomi syariah. Salah satunya adalah instrumen wakaf melalui Sukuk Wakaf Ritel (SWR) seri 06, yang hingga kini belum mampu mencatatkan penjualan di atas Rp1 triliun. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi tingkat imbal hasil yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen investasi komersial sehingga masih kurang menarik bagi sebagian investor.
Di sisi lain, Eko menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi ekonomi syariah. Ia menjelaskan tingkat literasi masyarakat terhadap ekonomi syariah telah mencapai sekitar 50%, namun angka inklusinya masih jauh lebih rendah. Karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk mendorong masyarakat tidak hanya memahami, tetapi juga memanfaatkan produk dan layanan keuangan syariah.
Menurut Eko, sentimen positif terhadap ekonomi syariah yang berkembang di media sosial merupakan peluang besar. Namun, ia menekankan pentingnya strategi atau “rekayasa media sosial” agar antusiasme tersebut dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata berupa peningkatan penggunaan jasa keuangan syariah oleh masyarakat.
Selain tantangan inklusi, Bank Indonesia juga mengingatkan adanya potensi risiko perubahan iklim, khususnya fenomena “El Nino Godzilla”, yang diperkirakan dapat mengganggu sektor pertanian




