Senin, Oktober 5, 2026

Ekspor Pala Merosot 18,2%, LPEI Kejar Pasar Tiongkok

Must Read

Dominasi Indonesia sebagai pemasok pala dunia belum mampu menghindarkan komoditas rempah ini dari tekanan permintaan global. Sepanjang Januari–Mei 2026, ekspor pala, bunga pala, dan kapulaga Indonesia tercatat mengalami penurunan baik dari sisi nilai maupun volume, terutama akibat melemahnya permintaan dari Tiongkok.

Kajian Indonesia Eximbank Institute mencatat ekspor komoditas dengan kode HS 0908 tersebut turun 12,8% secara nilai dan 18,2% secara volume secara kumulatif Januari–Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan ekonomi Tiongkok yang menekan konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor utama pelemahan permintaan.

Padahal, Indonesia masih menjadi produsen dan eksportir pala terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 70%–80% terhadap kebutuhan global berdasarkan data BPS yang diolah Kementerian Perdagangan RI. Tiongkok dan Vietnam menjadi dua pasar utama yang menyerap ekspor pala Indonesia.

Melihat tekanan tersebut, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank bersama Kementerian UMKM RI mulai memperkuat penetrasi pasar Tiongkok melalui ajang The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 di Guangzhou pada 3–6 September 2026.

Strategi tersebut diarahkan untuk mempertemukan UKM Indonesia dengan calon buyer sekaligus membuka peluang transaksi baru melalui business matching. Langkah ini menjadi penting bagi pelaku usaha rempah yang harus menghadapi pelemahan permintaan di salah satu pasar ekspor utama.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampaknya adalah CV Alpha Agro Indonesia. Eksportir rempah tersebut berhasil memperoleh transaksi pascapameran sebesar 20 ton pala dengan nilai mencapai Rp181,3 juta.

Manager CV Alpha Agro Indonesia, Lusy, mengatakan pameran internasional memberikan manfaat lebih luas daripada sekadar mendapatkan transaksi. Pelaku usaha juga dapat memperoleh informasi langsung mengenai karakteristik buyer dan kebutuhan pasar.

“Kami sangat bersyukur atas dukungan Pemerintah, salah satunya melalui LPEI, sehingga kami dapat berpartisipasi dalam pameran ini. Bagi kami, keikutsertaan ini tidak hanya menjadi sarana untuk membangun branding, tetapi juga untuk melakukan benchmarking dan memahami kebutuhan pasar, termasuk preferensi buyer, skema pembayaran, serta proses pengiriman,” ujar Lusy.

Menurut Lusy, tantangan UKM setelah mengikuti pameran justru terletak pada kemampuan menjaga komunikasi dengan calon buyer hingga menghasilkan transaksi. Kesepakatan ekspor tidak selalu terjadi dalam waktu singkat sehingga perusahaan harus memastikan kualitas produk dan kontinuitas pasokan.

“Keberhasilan UKM dalam pameran internasional tidak semata diukur dari transaksi yang tercipta selama pameran, tetapi dari kemampuan mengubah pertemuan dengan calon buyer menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Divisi Jasa Konsultasi Indonesia Eximbank, Maria Sidabutar, mengatakan CISMEF 2026 menjadi momentum untuk memperluas akses pasar UKM Indonesia sekaligus membangun kemitraan bisnis dengan buyer di Tiongkok.

“CISMEF 2026 menjadi momentum penting bagi UKM Indonesia untuk memperluas akses pasar dan membangun kemitraan dengan buyer di Tiongkok. Kami mengapresiasi Kementerian UMKM Republik Indonesia yang terus mendorong UMKM berorientasi ekspor untuk memanfaatkan peluang pasar global,” kata Maria.

Dia menambahkan, Indonesia Eximbank akan terus mendampingi UKM yang berorientasi ekspor melalui berbagai instrumen, mulai dari pembiayaan modal kerja dan investasi, penjaminan, asuransi hingga jasa konsultasi.

“Sejalan dengan mandatnya, Indonesia Eximbank hadir mendampingi UKM, baik dalam membuka akses pasar maupun meningkatkan kapasitas usaha. Kami berharap sinergi ini dapat membantu semakin banyak UKM Indonesia untuk naik kelas dan mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan di pasar global,” ujar Maria.

Penurunan ekspor pala pada awal tahun menjadi sinyal bahwa Indonesia perlu memperkuat strategi penetrasi pasar sekaligus meningkatkan daya saing eksportir. Besarnya pangsa Indonesia dalam pasokan pala dunia belum cukup jika tidak diikuti kemampuan membaca perubahan permintaan, memenuhi standar buyer, menjaga kontinuitas pasokan, dan menyediakan skema pembiayaan yang mendukung ekspansi.

Dengan tekanan konsumsi di Tiongkok yang masih menjadi tantangan, keberhasilan transaksi pascapameran seperti yang dicapai CV Alpha Agro Indonesia menjadi salah satu indikator bahwa pasar tersebut masih menyimpan peluang. Namun, peluang tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan eksportir Indonesia mengubah akses pasar menjadi kontrak jangka panjang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pendapatan Caroline.id Melejit 57,4%, ASLC Bidik Efek Domino Mobil Baru

PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) melihat pertumbuhan penjualan mobil baru sebagai katalis bagi bisnis kendaraan bekas. Perseroan menilai...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img