Moneter.id
–
PT Pertamina (Persero) memiliki empat komitmen dalam pengelolaan Blok Rokan
sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan ekonomi lokal di
Provinsi Riau.
Pertama,
memberikan kontribusi dari hasil Blok Rokan terhadap pendapatan bagi hasil
daerah. Kedua,
badan usaha milik daerah (BUMD) berhak atas 10 persen participating interest
(PI) Blok Rokan berdasarkan Keputusan Menteri ESDM 1923 K/10/MEM/2018.
Ketiga,
kegiatan operasional Blok Rokan akan melibatkan partisipasi perusahaan lokal
baik dalam bentuk barang, jasa, maupun tenaga kerja. Dengan demikian, hal ini
akan menggerakkan keekonomian masyarakat Riau.
Keempat,
perusahaan akan bersinergi dengan pemerintah daerah dalam kegiatan tanggung
jawab sosial agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan.
“Pertamina berkomitmen memaksimalkan potensi Blok
Migas Rokan bukan saja untuk menyuplai kebutuhan energi nasional, tapi juga
mendongkrak pembangunan ekonomi Riau,” kata Pejabat Sementara Kepala SKK
Migas Perwakilan Sumatera Bagian Utara Haryanto Syafri dalam keterangan pers di
Jakarta, Selasa (2/3).
Diketahui, kontrak bagi hasil Blok Rokan
ditandatangani antara SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan disetujui
Menteri ESDM pada 9 Mei 2019.
Jangka waktu kontrak bagi hasil menggunakan skema gross split berlangsung selama 20 tahun
terhitung sejak 2021 hingga 2041.
Chevron Pacific Indonesia (CPI), Pertamina Hulu Rokan
(PHR), dan SKK Migas telah berkoordinasi untuk pengambilalih kelola Blok Rokan
pada 9 Agustus 2021 mendatang.
Program PHR berupa transisi sembilan bidang utama
untuk tujuan menjamin keberlangsungan seluruh kegiatan operasi dan kegiatan
rutin Blok Rokan.
Selain itu, pada masa transisi Blok Rokan, telah
direncanakan dan disusun program pemboran sumur dalam pada 2021, baik oleh CPI
maupun PHR. Ini sebagai salah satu upaya menahan turunnya produksi minyak Blok
Rokan.
Blok Rokan memiliki peran strategis dalam industri
migas dalam negeri dengan menyumbangkan produksi 24 persen terhadap produksi
nasional.
Potensi cadangan minyak di wilayah kerja Blok Rokan
diperkirakan ada sekitar dua miliar barel yang menjadi andalan pemerintah untuk
mendukung target produksi 1 juta barel pada tahun 2030.




