Moneter.co.id – Setelah serangan teror bom di London, perusahaan jejaring sosial Facebook menyatakan ingin menjadikan platform media sosialnya sebagai ‘tempat yang tidak bersahabat’ bagi teroris.
Demikian dikatakan Direktur Kebijakan Facebook Simon Milner lewat pernyataan emailnya setelah serangan tiga pelaku teroris yang menabrakkan van yang disewa ke jalur pejalan kaki di Jembatan London, lalu menikam orang-orang di sekitar situ.
“Kami ingin Facebook menjadi lingkungan yang tidak bersahabat bagi teroris,” ungkapnya pada Senin (5/6).
Simon menjelaskan, dengan menggunakan kombinasi teknologi dan ulasan manusia, kami bekerja secara agresif untuk menghapus konten teroris dari platform kami segera setelah kami menyadari hal itu.
“Jika kami mengetahui adanya keadaan darurat yang akan membahayakan keselamatan seseorang, kami memberi tahu penegak hukum,” lanjutnya.
Dalam 3 bulan terakhir, terjadi serangan militant teroris di negeri Ratu Elizabeth itu. Sebelumnya, terjadi ledakan yang juga menewaskan beberapa penonton konser penyanyi asal AS, Ariana Grande, di Manchester.
Menanggapi teror tersebut, Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May menyatakan harus ada perombakan strategi yang digunakan untuk memerangi ekstremisme, termasuk tuntutan akan peraturan internasional yang lebih besar mengenai Internet.
Selama ini, perusahaan Internet besar dinilai bertanggung jawab mengembangkan ruang dalam penyebaaran ideologi ekstremisme.
May sebelumnya telah memberi tekanan pada perusahaan Internet untuk lebih bertanggung jawab atas konten yang diposting di layanan mereka. Bulan lalu dia berjanji jika dia memenangi pemilihan yang akan datang, untuk menciptakan kekuatan agar perusahaan membayar biaya kebijakan Internet dengan pungutan industri.
Sementara itu, Twitter juga mengatakan bahwa pihaknya berupaya mengatasi penyebaran propaganda militan di situsnya.
Nick Pickles, kepala kebijakan publik Inggris di Twitter mengatakan, konten teroris tidak memiliki tempat di Twitter. “Pada paruh kedua tahun 2016 Twitter telah menangguhkan hampir 400.000 akun,” ujarnya.
“Kami terus memperluas penggunaan teknologi sebagai bagian dari pendekatan sistematis untuk menghapus jenis konten ini,” lanjut Nick.
Rep.Hap




