Jumat, Oktober 9, 2026

Fenomena Makan Tabungan Meningkat, Rata-Rata Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun 45 Persen

Must Read

Fenomena “mantab” atau makan tabungan semakin menjadi perhatian di tengah meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat. Kondisi ini terjadi ketika pendapatan bulanan tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga masyarakat terpaksa menggunakan simpanan sebelum gaji berikutnya diterima. Tekanan tersebut terutama dirasakan kelompok masyarakat dengan saldo tabungan relatif kecil.

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2026 mencatat porsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi meningkat dari 72,7 persen menjadi 74,2 persen dalam satu bulan. Sebaliknya, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen. Sementara itu, alokasi untuk membayar cicilan atau utang sedikit menurun, dari 10,5 persen menjadi 10 persen.

Dengan komposisi tersebut, dari setiap pendapatan Rp1 juta, rata-rata Rp742 ribu digunakan untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk membayar cicilan, dan Rp158 ribu dialokasikan untuk tabungan. Data ini menunjukkan semakin besarnya porsi pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga ruang untuk membangun simpanan semakin terbatas.

Tekanan terhadap kemampuan menabung juga tercermin dalam data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Meski total simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta masih tumbuh, rata-rata saldo per rekening kelompok tersebut justru mengalami penurunan. Pada 2018, rata-rata saldo tercatat sebesar Rp3,1 juta, kemudian turun menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026. Penurunan tersebut mencapai sekitar 45 persen dalam kurun waktu delapan tahun.

Head of Investment & Insurance DANA Group, Ivan Kusuma, menilai menyusutnya saldo tabungan tidak selalu disebabkan oleh pengeluaran untuk hiburan atau gaya hidup. Persoalan juga dapat muncul ketika dana untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan darurat, dan tujuan keuangan jangka panjang ditempatkan dalam satu pos tanpa perencanaan yang jelas.

“Saldo yang terus berkurang bukan selalu karena terlalu banyak membeli kopi atau hiburan. Masalahnya sering kali muncul karena uang untuk kebutuhan hari ini, kebutuhan darurat, dan tujuan masa depan bercampur dalam satu tempat,” ujar Ivan.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan strategi pengelolaan keuangan yang realistis, bukan sekadar memangkas seluruh pengeluaran. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah conscious spending, yaitu menentukan tujuan penggunaan uang sebelum melakukan transaksi. Dengan perencanaan tersebut, masyarakat dapat membedakan kebutuhan utama, keinginan sesaat, serta alokasi dana untuk masa depan.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengenali pola pengeluaran. Pengeluaran kecil atau micro-spending, seperti membeli camilan, membayar parkir, hingga berlangganan aplikasi, sering kali tidak disadari meskipun jika dikumpulkan jumlahnya cukup besar. Meninjau riwayat transaksi dapat membantu masyarakat mengetahui pos pengeluaran yang masih diperlukan dan bagian yang bisa dikurangi.

Selanjutnya, masyarakat perlu menyusun anggaran sesuai prioritas dan kemampuan finansial. Pemisahan dana berdasarkan tujuan dapat membantu menjaga simpanan agar tidak mudah digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Dalam materi yang disampaikan, DANA menawarkan sejumlah fitur, seperti DANA Goals untuk menetapkan target keuangan, DANA eMAS untuk pembelian emas digital, serta DANA+ untuk penempatan dana pada reksa dana pasar uang. Penggunaan produk keuangan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan, risiko, dan kondisi keuangan masing-masing.

Ivan juga menyarankan penerapan prinsip “pause, bukan pantang” untuk mengurangi pembelian impulsif. Masyarakat dapat memberikan jeda selama 24 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak. Cara ini membantu seseorang mempertimbangkan kembali apakah suatu pembelian benar-benar diperlukan atau hanya didorong keinginan sesaat.

Di sisi lain, penggunaan cicilan juga perlu disesuaikan dengan kemampuan membayar dan tujuan pembelian. Cicilan yang tidak diperhitungkan secara matang dapat menambah tekanan pada arus kas bulanan. Karena itu, masyarakat perlu memastikan total kewajiban pembayaran tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pokok maupun kemampuan menyisihkan dana darurat.

Ivan menegaskan, kondisi keuangan yang sehat bukan berarti masyarakat harus berhenti menikmati hiburan atau memenuhi keinginan pribadi. Hal terpenting adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan tujuan keuangan jangka panjang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

INDEF Soroti 87 Persen Tenaga Kerja Alami Mismatch, Perlindungan Pekerja Platform Perlu Diperkuat

Peneliti Center of Digital Economy & SMEs INDEF, Fadhila Maulida, menyoroti tingginya ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img