Moneter.id
–
Emiten pertambangan batu bara PT ABM Investama Tbk (ABMM) mendapatkan kontrak baru
senilai Rp661 miliar untuk mengerjakan kontrak jasa pertambangan pada areal
kerja wilayah pertambangan PT Energi Batubara Lestari di Pit Blok Balimas,
Tapin, Kalimantan Selatan. Kontrak baru tersebut tertuang dalam perjanjian
tanggal 18 Desember 2020.
“Pada kontrak tersebut dijelaskan, perseroan
mengerjakan jasa pertambangan seperti memindahkan material dan penyewaan
alat berat selama tiga tahun. Kontrak ini dapat diperpanjang dan dapat menambah
pendapatan sebesar Rp661 miliar,” tulis perseroan diketerangan resminya, Senin
(21/12/2020).
Untuk diketahui, pada akhir September 2020 perseroan
mencatatkan pendapatan Rp6,59 triliun. Tapi membukukan rugi bersih Rp80,2
miliar.
Pada kuartal III/2020, perseroan mencatatkan penurunan
tipis 0,2% secara year-on-year (yoy)
menjadi sebesar US$442,16 juta dari perolehan kuartal III/2019 yang sebesar
US$443,41 juta.
Rinciannya, pendapatan segmen bisnis jasa turun 16,07%
secara yoy menjadi US$90,4 juta, pendapatan segmen pabrikasi turun 23,5% yoy
menjadi US$12,97 juta, dan pendapatan segmen perdagangan bahan bakar terkoreksi
61,48% yoy menjadi US$1,57 juta.
Hanya segmen bisnis kontraktor tambang dan penambangan
batu bara yang berhasil membukukan kenaikan, yakni sebesar 5,7% yoy menjadi
US$337,2 juta. Kendati demikian, sejumlah pos beban tampak membengkak. Beban
pokok penjualan ABMM naik tipis 2,6% yoy menjadi US$374,30 juta.
Selain itu, beban penjualan, umum, dan administrasi
naik 8% yoy menjadi US$41,74 juta, beban lainnya melambung 403,63% yoy menjadi
US$9,84 juta, sedangkan biaya keuangan meningkat 5,3% yoy menjadi US$29,11
juta.
Dengan demikian, perseroan membukukan rugi periode
berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$5,37 juta
hingga kuartal III/2020.
Perolehan itu berbanding terbalik dengan kinerja pada
periode yang sama tahun sebelumnya, yang membukukan laba bersih sebesar
US$11,29 juta.
Di sisi lain, total liabilitas perseroan per akhir
September 2020 naik menjadi US$644,75 juta dibandingkan dengan posisi 31
Desember 2019, yang sebesar US$609,35 juta. Angka ini terdiri atas liabilitas jangka
pendek sebesar US$248,27 juta dan liabilitas jangka panjang senilai US$396,48
juta.




