Moneter.id – Kementerian
Perdagangan melalui Direktorat Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) berkomitmen
terus mendorong kinerja ekspor melalui program peningkatan daya saing produk
berbasis desain. Salah satunya, melalui ajang Good Design Indonesia (GDI) untuk ketiga kalinya sejak tahun
2017.
“GDI merupakan sebuah pengakuan yang
diberikan kepada desainer atau pelaku usaha berorientasi ekspor, atas
keberhasilannya menciptakan desain produk yang tidak hanya bernilai seni
tinggi, tetapi juga harus memiliki sisi komersial untuk bisa masuk ke pasar
ekspor. Melalui prestasi di ajang GDI ini, kami ingin para pemenang dapat ‘naik
kelas’ dan mendapat pengakuan internasional,” kata Direktur Jenderal
Pengembang Ekspor Nasional, Arlinda, usai peluncuran GDI 2019 di kantor
Kemendag, Jakarta, Kamis (24/1).
Pada
penyelenggaraan kali ini, terdapat perubahan dari sisi kategorisasi produk.
Berbeda dari penyelenggaraan pada dua tahun sebelumnya yang membuka pendaftaran
untuk 6 kategori, mulai tahun ini GDI akan menerima pendaftaran produk yang
terdiri dari 16 kategori dengan masa pengumpulan mulai 24 Januari—24 Maret
2019.
Penambahan
kategori ini sebagai bentuk dukungan terhadap produk-produk Indonesia agar bisa
diterima pasar mancanegara khususnya Jepang, sesuai dengan kategori yang
berlaku pada ajang G-Mark.
Keenambelas
kategori tersebut yaitu life products
(household items); life products (for healthcare and hobby); life products
(daily necessities); life products (kitchen tools and home appliances);
information and communication technologies (ICT) equipment; furniture/housing
fixtures; mobility; product for medical care and manufacturing; products for
shop and public space; housing (personal residence, small sized appartement,
construction method); housing (medium sized, large sized housing complex);
construction/interior for industry, commercial facilities and public method);
media, contents, package; application/system, service, activities; B to B
software, system, service, activities; dan activities for the general public.
“Yang membedakan GDI dengan ajang desain lain
di Indonesia adalah fokus penjurian yang menekankan tidak hanya dari desain,
tetapi juga segi komersial suatu produk yang memiliki peluang di pasar ekspor.
Dengan kata lain, GDI ini ditujukan kepada produk-produk yang berorientasi
ekspor,” tambah Arlinda.
Adapun
tim juri akan terdiri dari para desainer, pelaku usaha, dan tokoh masyarakat
yang diharapkan dapat turut membuka peluang pasar bagi desain yang meraih
penghargaan GDI.
Terkait
dengan fokus GDI untuk mengangkat produk-produk dalam negeri berorientasi
ekspor, seperti tahun-tahun sebelumnya, proses penjurian GDI 2019 juga akan
melibatkan tenaga ahli dari Jepang yang juga merupakan juri G-Mark, sehingga
penjurian GDI juga merupakan seleksi tahap awal untuk mengikuti G-Mark.
Dengan
demikian, produk pemenang GDI yang difasilitasi oleh Ditjen PEN, secara
otomatis dinyatakan lolos seleksi G-Mark tahap pertama dan langsung mengikuti
seleksi tahap kedua di Tokyo, Jepang. GDI terbuka bagi pelaku usaha dan
desainer yang memiliki kewarganegaraan Indonesia (WNI), serta memenuhi salah
satu dari syarat utama, yaitu dibuat di Indonesia dan/atau dijual di Indonesia.
“Selain melalui
partisipasi pada perhelatan G-Mark di Jepang, produk atau desain peraih
anugerah GDI yang dinilai memiliki nilai komersial dan memiliki peluang ekspor,
juga akan difasilitasi mengikuti pameran dagang internasional Trade Expo Indonesia (TEI), yang
diadakan setiap tahun oleh Ditjen PEN dan telah menjadi agenda kunjungan rutin
para buyer puluhan negara,”
Arlinda menambahkan,
Arlinda
menjelaskan, GDI juga menjadi salah
satu wujud komitmen kami mempromosikan produk-produk nasional kepada para buyer, karena para pemenang GDI 2019 juga akan
diikutsertakan pada pameran TEI ke-34 yang akan berlangsung pada 16—20 Oktober
2019 melalui paviliun khusus yang difasilitasi oleh Ditjen PEN.
“Dengan semakin bervariasinya kategori produk yang
dibuka, kami menargetkan semakin banyak desainer dan pelaku usaha yang
mendaftarkan diri pada GDI 2019, dan meraih penghargaan bergengsi untuk
produk-produk yang memang sesuai orientasi pasar saat ini,” tutup Arlinda.




