Moneter.id – Peneliti dari
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Riza Annisa Pujarama
mengungkapkan hutang luar negeri Indonesia telah mencapai Rp7.000 triliun.
Hutang tersebut merupakan akumulasi dari Hutang Pemerintah dan Swasta.
“Disamping
itu, terdapat sebuah ironi bahwa negeri agraris dengan kekayaan alam berlimpah
ruah ini justru makin gencar menjalankan kebijakan impor bahan pangan dari
negara lain,” katanya diketerangan resminya, Rabu (18/7).
Padahal, lanjut
Riza, seharusnya kitalah yang gencar melakukan ekspor komoditas yang berbasis
sumber daya alam tersebut. Yang lebih miris lagi, impor beras dilakukan ketika
musim panen tiba.
Keterpurukan
perekonomian Indonesia semakin lengkap dengan adanya keterpurukan dari sisi
moneter. Melambungnya nilai Dolar terhadap Rupiah melampaui Rp14.300 per dolar
AS menyebabkan masyarakat kita khawatir akan terjadinya krisis ekonomi pada
tahun-tahun mendatang, sebagaimana krisis moneter yang pernah terjadi
sebelumnya. Apalagi soal Divestasi Freeport yg banyak pertanyaan dan
ketidakmandirian.
Mencermati
kondisi di atas, Indonesia Maju Bersama (IMB) sebagai sebuah Komunitas
pemerhati masalah bangsa serta kajian strategik merasa tergerak untuk membantu
memberikan solusi alternatif dengan mengadakan acara bertajuk ‘Diskusi untuk
Negeri: DIALOG EKONOMI, Mau Kemana Indonesia Kita?’ berlokasi di Kinanti
Building, Jakarta.
Baca juga: FROZEN Hadir pada Acara Dialog Ekonomi di Kinanti Building
Inisiator
Indonesia Maju Bersama, Akhmad Syarbini mengungkapkan, diskusi ini diharapkan
bisa menjadi ajang bagi para pemerhati bangsa untuk bisa bertukar gagasan dalam
menyikapi kondisi perekonomian bangsa yang semakin terpuruk ini.
“Forum ini
menjadi sarana urun rembug, mengumpulkan ide-ide baru dalam perbaikan kondisi
bangsa di tahun-tahun mendatang, khususnya di bidang ekonomi. Tidak saja
meratapi apa yang sudah lewat, tetapi juga mempersiapkan apa yang perlu
dibenahi di periode pemerintahan yang akan datang.”, ungkap Abi sebutan akrab Akhmad
Syarbini.
(TOP)




