Selasa, Januari 27, 2026

Implementasi Ekonomi Digital Bawa Indonesia Naik Kelas pada 2020

Must Read

Moneter.id – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
mengungkapkan, implementasi ekonomi digital akan membawa Indonesia naik kelas
dengan target menjadi negara berpendapatan level kelas menengah atas (
upper middle income country) pada tahun
2020. Untuk itu, diperlukan penerapan peta jalan Making Indonesia 4.0 secara
sinergi di antara pemangku kepentingan.

“Digitalisasi ekonomi merupakan salah satu leap frog strategy ke level selanjutnya,
yakni lulus dari middle income trap,”
kata Airlangga di
Bandung,
Senin (29/4).

Dalam hal ini, lanjut
Menperin,
melalui Making Indonesia 4.0, aspirasinya besarnya
adalah mewujudkan Indonesia masuk jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian
terkuat di dunia pada tahun 2030.

“Bahkan, berdasarkan hasil studi PwC dan McKinsey, kita
bisa masuk 7 besar ekonomi dunia di 2045, sementara pada 100 tahun Indonesia merdeka
nanti, kita menjadi ekonomi ke-4 terbesar di dunia,” ujar Airlangga.

Guna mencapai sasaran tersebut, indusri 4.0 akan memacu
produktivitas dua kali lipat dengan anggaran untuk RnD sebesar 2%.
“Oleh
karena itu, pemerintahan di bawah Bapak Presiden Joko Widodo akan meluncurkan
insentif super deductible tax baik
untuk RnD maupun pengembangan SDM. Artinya ini untuk menunjang program ekonomi
Indonesia berbasis inovasi,” jelasnya.

Menperin menambahkan, dengan penerapan ekonomi
digital, juga akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi. “Kalau baseline ekonomi kita targetnya tahun depan di angka 5,6%, maka baseline ini nantinya dapat ditingkatkan
menjadi 1-2
%,”
imbuhnya.

Kemudian, bakal terciptanya lapangan kerja hingga
lebih dari 10 juta orang dan kontribusi manufaktur bisa terdongkrak sebesar
25%.

“Ada 5
sektor yang menjadi pilot pada industri 4.0 di Indonesia, yakni industri
makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika.
Bukan berarti sektor lain tidak penting, karena ada 38 sektor lainnya yang
pemerintah punya kebijakan tersendiri untuk mereka,” paparnya.

Berdasarkan studi McKinsey, kelima sektor manufaktur
yang masuk dalam prioritas pengembangan pada Making Indonesia 4.0, karena
secara total mampu menyumbang hingga 78% terhadap PDB industri, kemudian
berkontribusi 65% terhadap ekspor dan sebanyak 60% tenaga kerja ada di lima
sektor tersebut.

Sampai dengan
tahun 2025 nanti, McKinsey juga menunjukkan,
pembangunan ekonomi berbasis digital akan menciptakan pendapatan tambahan pada
PDB nasional sebesar USD155 miliar. “Ini new
opportunity
akibat digitalisasi ekonomi. Selain itu, ada tambahan tenaga
kerja di sektor industri sebanyak 4,5 juta orang dan untuk sektor
industry-related service mencapai 12,5 juta orang,” sebut Menperin.

Dalam upaya mengajak pelaku usaha manufaktur di dalam
negeri memanfaatkan teknologi industri 4.0, Kemenperin telah meluncurkan Indonesia
Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Ini merupakan indeks acuan bagi
industri dan pemerintah dalam u
paya
mengukur tingkat kesiapan perusahaan untuk bertransformasi menuju industri 4.0
di Indonesia.

“Dari hasil self
assessment
, sebanyak 326 industri yang berpartisipasi dinilai cukup siap
menerapkan industri 4.0. Selanjutnya, kami juga melakukan pengembangan kepada
industri kecil dan menengah (IKM) agar bisa go
digital
melalui e-smart IKM serta program penumbuhan startup,” imbuhnya.

Kemenperin juga sedang membangun Pusat Inovasi dan
Pengembangan SDM Industri 4.0 di Jakarta.

Diharapkan dapat jadi percontohan pengembangan
inovasi. Isinya antara lain virtual
manufacturing lab
, smart quality
management
, autonomous logistic system
dan augmented reality,” ujarnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Hadirkan Saham AS, Kini Diversifikasi Aset Lebih Praktis di Satu Aplikasi Valbury

Perusahaan pialang berjangka, Valbury Asia Futures (Valbury) memulai langkah di awal 2026 ini dengan memperkuat layanan multi aset di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img