Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor Indonesia pada periode Januari–Februari 2026 mencapai US$42,09 miliar atau meningkat 14,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan impor nonmigas yang naik 17,49 persen menjadi US$36,93 miliar, sementara impor migas justru mengalami penurunan 3,50 persen akibat berkurangnya impor hasil minyak.
Secara bulanan, nilai impor Februari 2026 tercatat sebesar US$20,89 miliar atau naik 10,85 persen dibandingkan Februari 2025. Peningkatan ini kembali ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh 18,24 persen, meskipun impor migas turun signifikan hingga 30,36 persen, terutama karena penurunan impor minyak mentah dan hasil minyak.
Dari sisi komoditas, peningkatan terbesar impor nonmigas terjadi pada mesin dan peralatan mekanis yang naik US$1,58 miliar, diikuti mesin dan perlengkapan elektrik, serta logam mulia dan perhiasan. Namun, beberapa komoditas seperti bahan kimia organik, besi dan baja, kendaraan, serta bahan bakar mineral mengalami penurunan.
Berdasarkan negara asal, peningkatan impor nonmigas terutama berasal dari Tiongkok, Australia, dan Singapura. Tiongkok masih menjadi mitra utama dengan kontribusi terbesar mencapai 42,46 persen dari total impor nonmigas Indonesia, disusul Australia dan Singapura. Selain itu, kontribusi kawasan ASEAN mencapai 15,46 persen dan Uni Eropa sebesar 6,37 persen.
Dilihat dari penggunaan barang, impor bahan baku dan penolong masih mendominasi dengan kontribusi 69,84 persen, diikuti barang modal sebesar 21,61 persen dan barang konsumsi 8,55 persen. Seluruh kategori tersebut mencatat peningkatan, dengan lonjakan tertinggi pada barang modal yang naik 34,44 persen.




