Moneter.co.id – Kementerian
Perindustrian mengapresiasi upaya Konsulat
Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong dan komunitas bisnis
Indonesia-Hong Kong yang telah menginisiasi terbentuknya ‘Indonesia Chamber of Commerce’ (Inacham) di Hong Kong. Organisasi ini dapat memperkuat jejaring dan kerja
sama di antara pelaku industri kedua negara.
“Kami mendukung
penuh terbentuknya Inacham Hong Kong. Semoga Indonesia dapat menarik lebih
banyak investasi dari Hong Kong, dan sebaliknya semakin banyak peluang bagi
perusahaan Indonesia yang memperluas pasar di Hong Kong,” kata Sekjen
Kemenperin Haris Munandar ketika menghadiri Upacara
Peresmian Inacham di Hong Kong, Kamis (30/11).
Haris menjelaskan, saat ini merupakan momen yang tepat bagi para investor menanamkan
modalnya di Indonesia. Hal ini seiring dengan komitmen pemerintah Indonesia
untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui berbagai langkah
strategis seperti penerbitan sejumlah paket kebijakan ekonomi. “Sehingga dapat
memudahkan pelaku usaha berbisnis di Indonesia,” ujarnya.
Merujuk laporan tahunan Bank Dunia terkait peringkat ‘Ease of Doing
Business’ (EoDB) 2018, peringkat kemudahan berusaha Indonesia di 2018 secara
keseluruhan naik 19 peringkat dari posisi ke-91 menjadi posisi 72 dari 190
negara yang disurvei. Pada EoDB 2017, posisi Indonesia juga meningkat 15
peringkat dari 106 menjadi 91. Tercatat dalam dua tahun terakhir posisi
Indonesia naik 34 peringkat.
“Bahkan,
selain telah mengusulkan harga energi industri yang kompetitif, kami juga telah
mengajukan suatu skema insentif baru bagi industri di dalam negeri agar
kinerjanya semakin produktif dan berdaya saing global,” ungkap Haris.
Ia menjelaskan, insentif
fiskal tersebut akan diberikan kepada industri yang berkomitmen melakukan
pengembangan pendidikan vokasi dan inovasi serta industri padat karya
berorientasi ekspor.
Haris menambahkan, pihaknya tengah gencar menjalankan program pendidikan dan
pelatihan vokasi untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan
dunia industri saat ini. Apalagi, dalam menghadapi era revolusi industri ke-4
atau Industry 4.0. “Antara lain melalui link
and match antara SMK dengan indusri serta pelatihan 3in1,” tuturnya.
Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja industri pengolahan non–migas pada triwulan III tahun 2017 tumbuh sebesar 5,49 persen atau lebih tinggi
dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,06 persen. Capaian ini
ditopang oleh subsektor industri yang mengalami pertumbuhan tinggi, antara lain
industri logam dasar sebesar 10,60 persen, industri makanan dan minuman 9,49 persen, industri mesin
dan perlengkapan sebesar 6,35 persen, serta industri alat angkutan 5,63 persen.
Sebelumnya,
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berpandangan bahwa Indonesia dalam
proporsi ekonominya dapat dikategorikan sebagai sebuah negara industri.
Pasalnya, sektor industri merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian
nasional dengan sumbangannya mencapai lebih dari 30 persen.
Menurutnya, sesuai kesepakatan di ‘World Economic
Forum’, aktivitas industri dinilai sebagai sebuah proses
yang terjadi di dalam dan luar pabrik. Bahkan, sampai ke konsumen membuat produk
daur ulang. “Hingga Agustus 2017, penyerapan tenaga kerja di
sektor industri sebanyak 17,01 juta orang atau 14,05 persen dari total tenaga kerja di Indonesia. Selain
itu, kontribusi pajak dari sektor industri mencapai Rp224,9 triliun,” ungkapnya.
Menperin menambahkan, potensi pasar ekspor saat ini masih cukup luas. Oleh
karenanya, industri nasional perlu didorong untuk mengkombinasikan tujuan
pemasaran produknya, selain membidik pasar domestik. “Pemerintah tengah
berupaya menyelesaikan perjanjian-perjanjian internasional agar produk lokal
yang kita andalkan untuk ekspor tidak terganggu,” tegasnya.
Di
samping itu, Menperin melihat proses manufaktur di ASEAN semakin terhubung dengan
rantai nilai dan rantai pasok di dunia serta aktif melakukan kegiatan
penelitian dan pengembangan. “Kami meyakini ASEAN
pada dekade selanjutnya dapat menjadi wilayah yang memimpin menjadi future of production, dengan basis internet of everything sabagai
infrastruktur utamanya,” ungkapnya.
Menperin optimistis target tersebut bisa terwujud karena ASEAN memiliki
potensi yang kuat untuk mencapainya, dengan keunggulan besar yang didukung oleh
pertumbuhan ekonomi regional yang stabil dan persentasenya lebih besar daripada
pertumbuhan ekonomi dunia.
“ASEAN didukung oleh beberapa faktor enabler lainnya, seperti populasi
penduduk usia muda, kelas menengah yang tumbuh, infrastruktur digital
berkembang, transformasi industri kecil dan menengah ke arah digital, serta
konektivitas antarmanusia,” paparnya.
Diharapkan, terbentuknya Inacham
di Hong Kong, hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara semakin meningkat
serta memperoleh keuntungan dari integrasi ekonomi ASEAN. Selama ini, Hong Kong
adalah mitra dagang yang penting dan salah satu sumber investasi terbesar di
Indonesia. Hong Kong juga melihat Indonesia sebagai salah satu mitra strategis,
terlihat dari dibukanya kantor Hong Kong Trade and Development Council (HKTDC)
dan Hong Kong Economic and Trade Office (HKETO) di Jakarta. (TOP)




