Kamis, Januari 15, 2026

Industri 4.0 Dongkrak Kinerja Hingga 50 Persen

Must Read

Moneter.id – Revolusi industri 4.0 telah membawa
perubahan pada model bisnis baru di sektor manufaktur, yang dinilai mampu
meningkatkan kinerja hingga 20-50 persen lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini
karena melalui pemanfaatan teknologi digital secara terintegrasi.

“Jadi, tentunya penerapan industri 4.0 diyakini
akan memacu produktivitas dan kualitas sehingga produk yang dihasilkan lebih inovatif
dan kompetitif,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sesuai
keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis (24/1).

Saat itu, Menperin menjadi narasumber
pada workshop mengenai strategi bisnis dan dampak global dari Future Factory
4.0 dalam rangkaian kegiatan 2019
World Economic Forum Annual Meeting
di Davos, Swiss. Salah satu fokus pembahasannya adalah
upaya
peningkatan penggunaan teknologi di industri manufaktur.

Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan
sistem industri 4.0, yaitu
Internet
of Things
, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi
robotik dan sensor, serta teknologi 3D
Printing.
“Penerapan industri 4.0 merupakan upaya untuk melakukan otomatisasi dan digitalisasi
pada proses produksi,” terangnya.

Langkah tersebut mendorong pengembangan
pabrik masa depan di era industri 4.0 atau Future Factory 4.0. Ini menjadi
inisiatif yang bertujuan membantu perusahaan-perusahaan manufaktur, termasuk industri
kecil dan menengah (IKM), untuk beradaptasi dengan tekanan persaingan global dan
perkembangan teknologi terbaru.

“Inisiatif ini akan membantu industri
untuk memenuhi permintaan konsumen global yang meningkat terhadap produk yang
lebih ramah lingkungan, lebih sesuai dan lebih berkualitas melalui transisi
industri dengan lebih sedikit limbah dan penggunaan sumber daya yang lebih
baik,” papar Menperin.

Menurutnya, guna
memaksimalkan pemanfaatan teknologi terkini, perlu mengidentifikasi keterampilan
baru yang dibutuhkan serta mendukung upaya peningkatan kemampuan dan pendidikan
SDM industri.

Untuk
itu, pemerintah berkomitmen menyiapkan formulasi percepatan penerapan industri
4.0 melalui insentif pajak (untuk sektor yang berinvestasi di penelitian dan
pengembangan teknologi), pelatihan manajer dan ahli, fasilitas untuk IKM,
program percontohan, dan pendirian pusat inovasi industri 4.0
,” ujarnya.

Selanjutnya, diperlukan penguatan kemitraan
yang sinergi antara pemerintah dengan swasta. Selain itu, dibutuhkan kegiatan penelitian
dan pengembangan yang lebih aktif guna menciptakan proses manufaktur
berteknologi tinggi, kemudian peralatan dan sistem manufaktur yang adaptif dan
cerdas, desain pabrik yang efisien, serta manajemen data untuk meningkatkan
produksi.

Menperin menambahkan, revolusi industri
4.0 juga telah mengubah operasi menjadi inovasi dan mendorong paradigma
produktivitas baru di sektor manufaktur. “Mau tidak mau, kalau kita bicara future production, bicara pula tentang
memperluas pasar ekspor. Kalau kita bicara pasar ekspor, berarti globalisasi,”
ungkapnya.

Dalam hal ini, sesuai implementasi peta
jalan Making Indonesia 4.0, Kementerian Perindustrian terus menggenjot kinerja
industri yang berorientasi ekspor. Sektor yang menjadi prioritas, di antaranya
yang akan menjadi pionir penerapan industri 4.0, yakni industri makanan dan
minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika.

“Indonesia sudah memprioritaskan pada
industri yang berorientasi ekspor di lima sektor tersebut sesuai Making
Indonesia 4.0. Jadi, lima sektor itu memang diminati oleh berbagai negara,
tentu ini bagian dari  global supply chain yang dihasilkan dari
Indonesia,” tuturnya.

Kemenperin mencatat, industri manufaktur
konsisten memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional hingga
73%.
Nilai ekspor industri pengolahan
nonmigas diproyeksi menembus USD130,74
miliar pada tahun 2018. Capaian ini
meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar

USD125,10 miliar.

Indonesia Negara
Stabil

Menperin menyampaikan, di setiap
rangkaian pertemuan pada WEF 2019, banyak perwakilan negara lain menyatakan Indonesia
menjadi salah satu negara yang stabil secara politik dan ekonomi. Ini menjadi fundamental
yang kuat dalam memacu pertumbuhan ekonomi.

“Apalagi, dengan ketersediaan jumlah tenaga kerja,
Indonesia juga menjadi daya tarik tersendiri bagi

perusahaan-perusahaan
di dunia untuk mendiversifikasi produknya, seperti dari China,” ujarnya.

Terkait adanya isu perang dagang yang
berkembang dan kondisi ketidakpastian di tingkat global, Menperin menilai, hal
itu bisa menimbulkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia
perlu mengelola norma baru dengan pertumbuhan saat ini.

“Langkah quick wins yang dilakukan, salah satunya mendorong peningkatan investasi
di lima sektor unggulan pada Making Indonesia 4.0. Jadi, kita konsisten saja
dengan investasi di lima sektor itu, karena mempunyai pasar yang besar,”
tuturnya.

Kemenperin terus mendorong peningkatan
investasi guna lebih memperdalam struktur industri di dalam negeri, yang juga
bertujuan untuk mensubstitusi produk impor.
Investasi
di sektor industri manufaktur pada tahun 2014 sebesar Rp195,74 triliun, naik
menjadi Rp226,18 triliun di tahun 2018.

Di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih lambat,
menurut Airlangga, Indonesia mampu mengatasinya dengan mencatatkan pertumbuhan
ekonomi berkisar 5,2 persen dalam lima tahun terakhir. “Dari capaian itu, kami
bisa menyediakan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan yang angkanya
terendah dalam empat tahun terakhir,” tuturnya.

Bahkan, di tengah perang dagang Amerika Serikat dan
China, Indonesia mengalami keuntungan dari

situasi
tersebut. “Bagi dua negara itu akan melihat ke kawasan regional lain, termasuk
ke Indonesia. Jadi, ada
investasi
baru yang akan komit ke Indonesia, ini juga bisa dilihat sebagai stabilisasi
bagi wilayah kita,”
jelasnya.

Kendati demikian, Menperin
berharap,
AS dan China bisa lebih menjalin hubungan yang
harmonis, sehingga perekonomian Indonesia ikut berjalan lebih cepat.

Yang paling penting adalah globalisasi. Standardisasi jadi penting, kalau
kita melakukan perdagangan dengan standar global,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Indonesia telah menyiapkan melalui peta
jalan Making Indonesia guna meningkatkan daya saing industri nasional di kancah
global. “Di roadmap itu sudah jelas target
yang tercantum, bahwa tahun 2030, Indonesia akan menjadi 10 besar kekuatan
ekonomi dunia. Kemudian, menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia di 2045, PwC
menyampaikan Indonesia bisa menduduki peringkat ke-4 dalam perekonomian dunia,”
paparnya. 

Keikutsertaan di WEF 2019 merupakan langkah untuk
kalibrasi kebijakan Indonesia terkait digitalisasi ekonomi serta globalisasi.
“Dengan globalisasi, atau lebih tepatnya glokalisasi ekonomi, kami ingin
melihat dan merangkul lebih banyak komunitas, negara serta korporat untuk
rekalibrasi kebijakan di Indonesia,” kata Airlangga.

Menurutnya, langkah ini penting untuk mengetahui arah
dan tujuan pembangunan Indonesia ke depan.


- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img