Rabu, Januari 14, 2026

Industri 4.0 Yakin Dongkrak Ekspor Mamin 4 Kali Lipat Jadi USD 50 Miliar

Must Read

Moneter.id – Implementasi industri 4.0 diyakini mampu
meningkatkan ekspor makanan dan minuman olahan nasional hingga empat kali
lipat, dari target tahun ini sekitar USD12,65 miliar yang akan menjadi sebesar
USD50 miliar pada 2025. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian telah
menyiapkan tahapan strategi guna mencapai sasaran tersebut sesuai peta jalan
Making Indonesia 4.0.

“Di dalam roadmap,
telah ditetapkan bahwa industri makanan dan minuman merupakan satu dari
lima sektor manufaktur kita yang sudah siap dan tengah diprioritaskan
pengembangannya untuk menjadi pionir memasuki era revolusi industri 4.0 di
Tanah Air,” kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar
Kemenperin Abdul Rochim mewakili Direktorat Jenderal Industri Agro pada acara
Workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Yogyakarta, Kamis (30/8).

Rochim menyebutkan, pihaknya sedang menyusun
rencana aksi dan rancangan insentif teknologi terkait implementasi industri 4.0
untuk produsen makanan dan minuman olahan dalam negeri. “Tahun depan, kami akan
melaksanakan kegiatan pelatihan ekspor, temu bisnis dan promosi investasi bagi
industri agro,” tuturnya.

Sementara di periode tahun 2019-2020,
Kemenperin bakal melakukan perbaikan alur aliran material, menetapkan pilot project, dan memfasilitasi bantuan
cyber-physical systems dalam rangka
penerapan industri 4.0 di sektor penghasil produk makanan dan minuman olahan.

“Jadi, pada 2021, implementasi industri 4.0
diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor produk pertanian serta produk
makanan dan minuman olahan, seperti beras, ayam, gula, makanan laut olahan,
cokelat, tepung kanji, serta buah dan sayur olahan,” paparnya.

Kemudian, tahun 2025, industri makanan dan
minuman nasional dibidik menjadi pemimpin di pasar makanan kemasan sederhana
hingga medium di tingkat Asean. Produk yang difokuskan, antara lain air
minum dalam kemasan, mi, teh siap saji, dan kopi.

“Pada 2030, Indonesia ditargetkan menjadi
lima besar eksportir untuk industri makanan dan minuman di tingkat
global,” imbuhnya.

Rochim pun mengungkapkan, saat ini 30%
industri makanan dan minuman di Indonesia telah menerapkan teknologi industri
3.0. 

“Sedangkan, sejumlah perusahaan besar sudah
menerapkan industri 4.0 di beberapa bagian lini produksi,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Rochim, selain memacu
nilai ekspor, implementasi industri 4.0 di Indonesia dinilai juga dapat
meningkatkan produktivitas dan inovasi serta mengurangi biaya produksi.

“Apalagi kita punya beberapa keunggulan melalui
pasar domestik terbesar dengan 30%
total pasar Asean dan sumber daya
pertanian yang berlimpah dengan nomor 5 di dunia dalam total volume
produksi,” jelasnya.

Ke depannya, kata Rochim, Kemenperin akan
lebih fokus terhadap peningkatan produktivitas
sektor hulu dengan pemanfaatan teknologi, pemberdayaan industri kecil dan
menengah (IKM) dengan dukungan pendanaan dan fasilitasi mesin produksi,
melakukan efisiensi rantai pasokan, serta meningkatkan produksi makanan kemasan modern dengan inovasi produk.

Kemenperin
mencatat,
industri makanan dan minuman mampu tumbuh
hingga 8,67% pada triwulan II/2018. Kinerja ini melampaui pertumbuhan ekonomi
nasional.

Selanjutnya, industri makanan dan minuman
juga memberikan kontribusi besar terhadap nilai investasi sepanjang semester I/2018,
di mana menyumbang sebesar 47,50%  atau
senilai Rp21,9 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN). Sedangkan,
untuk penanaman modal asing (PMA), industri makanan menyetor 10,41% (USD586
juta).

 

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img