Senin, Januari 26, 2026

Industri Manufaktur Jadi Sektor Andalan Dongkrak Nilai Ekspor

Must Read

Moneter.id – Pemerintah
terus berupaya menggenjot nilai ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan di
tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. Dalam hal ini, industri
manufaktur akan menjadi sektor yang diandalkan guna berkontribusi lebih memperkuat
struktur perekonomian nasional.

“Saat
ini, ekspor produk industri manufakur memberikan kontribusi mencapai 72,28% dari total ekspor nasional,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
di Jakarta, Senin (24/12).

Kementerian
Perindustrian mencatat, nilai ekspor produk manufaktur terus meningkat setiap
tahun. Hingga Desember 2018, mampu menembus USD130,74 miliar atau naik 4,51
% dibanding capaian tahun
2017 sebesar USD125,10 miliar. Tahun 2016 sekitar USD110,50 miliar dan tahun 2015
di angka USD108,60 miliar.

Menurut
Menperin, dalam upaya mendorong peningkatan ekspor dari industri manufaktur,
diperlukan langkah untuk memacu investasi atau ekspansi. “Supaya bisa menggenjot
kapasitas industri, dibutuhkan tambahan investasi untuk perluasan usaha,”
jelasnya.

Hingga Desember 2018, investasi
industri nonmigas diperkirakan mencapai Rp226,18 triliun. Selain
menumbuhkan
populasi industri, investasi dapat memperdalam struktur industri di dalam
negeri
sehingga berperan sebagai substitusi impor.

“Populasi
industri besar dan sedang bertambah sebesar 6 ribu unit usaha. Industri kecil
mengalami penambahan jumlah industri yang mendapatkan izin sebanyak 10 ribu
unit usaha,” paparnya.

Dari
capaian tersebut, total tenaga kerja di sektor industri yang telah terserap
sebanyak 18,25 juta orang. Jumlah tersebut naik 17,4
% dibanding tahun 2015 di
angka 15,54 juta orang.

Oleh
karena itu, pemerintah terus merancang kebijakan pemberian insentif fiskal yang
lebih menarik sehingga dapat menggairahkan iklim usaha. “Misalnya, untuk
industri otomotif, kami mengusulkan harmonisasi tarif dan revisi besaran
PPnBM,” imbuhnya.

Upaya strategis itu salah satunya
guna mendongkrak produktivitas kendaraan sedan karena sesuai
permintaan
pasar ekspor saat ini. Sebab, produksi industri otomotif di Indonesia masih
didominasi jenis

SUV dan MPV. Pasar yang potensial untuk ekspor sedan,
misalnya ke Australia. Peluangnya mencapai 1,3 juta unit.
Sementara,
jumlah pengapalan untuk kendaraan roda empat produksi Indonesia ke mancanegara
saat
ini sebesar 200 ribu unit per tahun.

Pada Januari-Oktober 2018, industri
otomotif di Indonesia mengekspor kendaraan roda dua dengan total nilai sebesar
USD1,3 miliar. Sedangkan, untuk kendaraan roda empat, dengan nilai USD4,7
miliar.

Menperin mencontohkan beberapa
industri otomotif sudah berhasil melakukan ekspor. Menurutnya, mereka bisa
melakukan ekspor ketika ada investasi yang menggerakkan industri sehingga
menghasilkan produk yang berdaya saing. “Kemarin sudah ada ekspor dari
Toyota, Suzuki, dan Yamaha Motor. Semua itu kan investasi dulu baru ekspor.
Karena kapasitasnya rata-rata sudah optimal,” jelasnya.

Jalin kemitraan ekonomi

Menperin
menambahkan, dalam rangka menggenjot nilai ekspor, Indonesia akan aktif menjalin
kemitraan ekonomi dengan berbagai negara melalui free trade agreement (FTA) atau comprehensive
economic partnership agreement
(CEPA).

Misalnya,
Indonesia dan empat negara yang tergabung dalam European Free Trade Association
(EFTA) telah menandatangani skema IE-CEPA. Empat negara EFTA adalah Swiss,
Liechtenstein, Islandia dan Norwegia.

“Jadi,
peluang meningkatkan ekspor kita akan sangat besar karena bea masuk ke sana
menjadi nol persen. Berbagai produk andalan dari Indonesia siap merambah pasar
global, seperti perhiasan ke Swiss dan produk-produk lainnya seperti tekstil,
pakaian, dan alas kaki, termasuk juga produk IKM,” ujarnya.

Airlangga
menegaskan, pihaknya tengah
mendorong peningkatan ekspor oleh
industri yang memiliki kelebihan kapasitas. Hal ini karena telah mampu memenuhi
pasar domestik. “Jadi
memang
perlu diperhatikan kombinasi pasar domestik dan ekspor supaya volumenya
meningkat,” tandasnya.

Adapun sektor yang sedang dipacu,
antara lain industri makanan dan minuman serta industri tekstil dan produk
tekstil (TPT). Kelompok ini juga merupakan manufaktur yang mendapat prioritas
pengembangan dalam penerapan industri 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia
4.0.

“Pada
tahun 2030, Indonesia ditargetkan menjadi lima besar eksportir untuk industri
makanan dan minuman di tingkat global,” ungkapnya.

Implementasi
industri 4.0 diyakini mampu meningkatkan ekspor makanan dan minuman nasional
hingga empat kali lipat, dari target tahun ini sekitar USD12,65 miliar yang
akan menjadi sebesar USD50 miliar pada 2025.

Sementara
itu, industri TPT mampu kompetitif karena struktur industrinya sudah
terintegrasi dari
hulu
sampai hilir dan
produknya
juga
dikenal
memiliki kualitas yang baik di pasar internasional
. Sektor padat karya ini mampu
memberikan share ekspor dunia sebesar
1,6
%.

Pada
tahun 2018, Kemenperin mematok ekspor industri TPT sebesar USD13,5 miliar dan
menyerap tenaga kerja sebanyak 2,95 juta orang. Tahun 2019, ekspornya
diharapkan bisa mencapai USD15 miliar dan menyerap sebanyak 3,11 juta tenaga
kerja. Periode Januari-Oktober 2018 ekspor TPT nasional telah menembus di angka
USD11,12 miliar, naik 7,1
%
dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

Di
samping itu, industri karet sintetis juga berpeluang dongkrak nilai ekspor
nasional. Hal ini seiring dengan adanya investasi PT Synthetic Rubber Indonesia
(SRI), beberapa waktu lalu. Diproyeksi nilai ekspor karet sintetis dari
perusahaan ini mencapai USD250 juta dengan kapasitas produksi 120 ribu ton per
tahun.

Dalam
pemanfaatannya, karet sintetis banyak dimanfaatkan untuk memproduksi ban, conveyor belt, komponen karet, alas
kaki, serta pembungkus kabel listrik
.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Bitcoin (BTC) Anjlok Jelang FOMC Pekan Ini

Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) melemah -2,75% bertengger di $86.850 (IDR 1.455.405.638) kembali turun setelah gagal melewati MA-50...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img