Jumat, Maret 13, 2026

Industri RI Berkontribusi Kuatkan Kemitraan Ekonomi ASEAN dan Eropa

Must Read

Moneter.co.id – Negara ASEAN dan
Eropa merupakan mitra strategis bagi Indonesia guna membangun perekonomian yang
saling menguntungkan. Salah satu langkah yang perlu ditempuh untuk menguatkan
hubungan tersebut, yakni melalui percepatan dalam perundingan Perjanjian
Kemitraan Ekonomi Komprehensif (
Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) kedua belah
pihak.

“Untuk
itu, kami mendorong agar industri Indonesia bisa terintegrasi pada value chain di tingkat Asean, terutama
di sektor yang potensial seperti otomotif, elektronika, serta makanan dan
minuman,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan
Chairman Europe Asean Business Alliance (EABA), Geoff Donald beserta delegasi
di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (7/12).

Menperin
menyampaikan, p
elaksanaan
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi momentum penting bagi negara-negara di
Asia Tenggara untuk semakin meningkatkan kerja sama ekonomi khususnya sektor
industri agar bisa saling melengkapi satu sama lain. Apalagi ketiga sektor
industri tersebut tengah dipacu daya saingnya oleh sejumlah negara karena saat
ini dinilai siap menerapkan sistem Industry 4.0.

“Kami meyakini Asean akan menjadi kawasan yang
mampu memimpin sebagai future of
production
, dengan basis internet of
everything
sabagai infrastruktur utamanya,” ungkap Airlangga.

Hal ini
lantaran Asean memiliki potensi pada pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil. 
“Selain itu, didukung dengan populasi penduduk usia muda,
kelas menengah yang tumbuh, infrastruktur digitalnya berkembang, transformasi
industri kecil dan menengah ke arah digital, serta konektivitas antarmanusia,”
imbuhnya.

Airlangga menyebutkan, ketiga sektor industri nasional
seperti otomotif, elektronika, serta makanan dan minuman telah memiliki
keunggulan yang kompetitif di kancah global. Oleh karenanya, terus didorong
untuk memperluas pasar ekspor. “Apalagi, industri
makanan dan minuman sangat banyak di
dalam negeri, mulai dari tingkat kabupaten, bahkan sudah ada yang go international,” ujarnya.

Di tengah perkembangan era digital, industri elektronika
lokal juga berpeluang tumbuh.

“Sedangkan, di sektor otomotif, selain kita punya domestik
market yang kuat, Indonesia telah menjadi

basis produksi dari beberapa perusahaan otomotif dunia,”
tutur Airlangga.

Di samping
itu, Kemenperin juga mendorong tiga produk unggulan Indonesia
agar lebih memperluas pasar ekspor di Uni Eropa, yaitu pakaian, tekstil, dan
sepatu. Ketiga produk industri tersebut masih dikenakan bea masuk oleh Uni
Eropa sebesar 12 persen, sedangkan minyak kelapa sawit nol persen, kecuali
beberapa produk turunannya yang terkena bea masuk sekitar 10 persen.

Menperin
berharap, dengan adanya pembebasan bea masuk, menjadi peluang besar bagi
industri Indonesia semakin berdaya saing. Untuk itu, Indonesia tengah melakukan
negosiasi dengan Uni Eropa terkait perdagangan dan investasi kedua belah pihak
melalui IEU CEPA.

Sementara, Dirjen
Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu
Suryawirawan menjelaskan, dalam pertemuan tersebut, delegasi EABA yang terdiri
dari para pelaku industri sangat berharap kepada pemerintah Indonesia dapat
menjamin ketersediaan bahan baku untuk mendukung proses produksi yang
berkelanjutan.

“Mereka ingin
investasinya bisa berjalan lancar di Indonesia, sehingga diharapkan tidak ada
perubahan peraturan yang menyulitkan. Mereka yang hadir, terdiri dari sektor
industri berbasis agro, peralatan kesehatan, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Beberapa
perwakilan perusahaan yang datang dalam delegasi EABA, antara lain Roche Asia
Pacific, PT. Roche Indonesia, Novartis, Danone, Friesland Campina, ABN Amro,
ZUELLIG Pharma, serta Vriens & Partners.

Putu
menegaskan, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus menciptakan iklim
investasi yang kondusif melalui beragam langkah strategis seperti penerbitan
sejumlah paket kebijakan ekonomi dan deregulasi. Upaya ini guna mempermudah
pelaku usaha menjalankan bisnisnya di Tanah Air.

Selanjutnya,
dalam upaya menarik investor dan menguatkan daya saing industri nasional,
Kemenperin pun tengah mengajukan suatu skema baru terhadap pemberian insentif
fiskal. Fasilitas pengurangan pajak ini akan diterima industri yang berkomitmen
melakukan pengembangan pendidikan vokasi dan inovasi.

Bagi industri
yang melaksanakan program vokasi, akan mendapat insentif pajak 200 persen.
Sementara, industri yang membangun inovasi akan mendapat insentif pajak 300
persen. Bahkan, Kemenperin juga tengah gencar melaksanakan program pendidikan
dan pelatihan vokasi untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten sesuai
kebutuhan industri saat ini.

Di bidang
investasi nonmigas, Uni Eropa menjadi penanam modal terbesar ke-4 di Indonesia
setelah
Singapura, Jepang, dan Tiongkok

pada tahun 2016, dengan nilai investasi mencapai USD2,6 miliar atau naik
dibanding tahun sebelumnya sebesar USD2,26 miliar.  (HAP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Jumlah Pemegang Saham LAPD Naik Signifikan, Seiring Masuknya Pengendali Baru

Jumlah pemegang saham PT Leyand International Tbk tercatat mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img