Jumat, Maret 13, 2026

Industri Tekstil dan Pakaian Capai 18,98 Persen pada Triwulan I /2019

Must Read

Moneter.id – Industri tekstil dan pakaian jadi mencatat pertumbuhan
mencapai 18,98 persen

pada triwulan I /2019. Pencapaian itu naik
signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu di angka 7,46 persen dan juga
meningkat dari perolehan selama 2018 sebesar 8,73 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun menunjukkan,
produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) pada kuartal I
/2019 naik
4,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan produksi IBS
tersebut, ditopang oleh produksi sektor industri pakaian jadi yang meroket
hingga 29,19 persen karena melimpahnya order, terutama dari pasar ekspor.

“Industri tekstil
dan produk tek
stil
(TPT) merupakan salah satu sektor andalan karena memberikan kontribusi besar
bagi perekonomian nasional. Apalagi, industri TPT sebagai sektor yang te
rgolong
padat karya dan berorientasi ekspor,”
kata
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki
Kementerian Perindustrian, Muhdori di Jakarta, Minggu (12/5).

Menurut Muhdori, pertumbuhan tinggi yang terjadi pada
industri TPT, terutama disebabkan adanya investasi yang cukup besar di sektor
hulu khususnya produsen rayon. Ini terlihat dari beroperasinya PT Asia Pacific
Rayon (APR)
di Riau pada akhir tahun 2018,
dengan investasi
Rp11 triliun. Pabrik ini menambah
kapasitas produksi sebesar 240 ribu
ton per tahun, yang setengahnya diorientasikan untuk keperluan pasar ekspor.

“Itu yang menyebabkan peningkatan dari sisi ekspor.
Selain itu, supply dari hulu yang
meningkat, juga mendorong kinerja ke industri hilir dan antara sehingga secara
komulatif industrinya semakin bergairah. Ini ditandai dengan ekspor TPT yang
naik 1,1 persen pada triwulan I tahun ini,” paparnya.

Kemudian, dengan adanya kebijakan pengendalian
terhadap impor yang dilakukan oleh pemerintah sejak Februari 2017, juga
berdampak positif terhadap penurunan impor yang mencapai 2,1 persen pada
triwulan I
/2019.
“Penurunan impor juga berdampak pada surplus neraca perdagangan yang ikut naik,”
imbuhnya.

Lebih lanjut, peningkatan produktivitas industri TPT
juga ditunjang melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi yang
dilakukan oleh Kemenperin. Program ini menciptakan SDM industri yang kompeten dan
produktif. Bahkan, didorong pula adanya momentum pemilihan umum beberapa waktu
lalu, yang sebagian pelaku industri TPT memproduksi atribut untuk kampanye.

“Konsumsi TPT juga diyakini akan terus meningkat
seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perubahan gaya hidup. Dalam
memanfaatkan peluang ini, pelaku industri TPT nasional harus bekerja keras
meningkatkan produktivitas, kualitas dan efisiensi melalui penerapan teknologi
yang lebih modern sesuai dengan era digital,” tutur Muhdori.

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri
TPT adalah satu dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas
pengembangan dalam kesiapan menuju era industri 4.0. Aspirasi besar yang akan
diwujudkan, yaitu menjadikan produsen tekstil dan pakaian jadi nasional masuk
jajaran lima besar dunia pada tahun 2030.

“Untuk mewujudkannya, industri TPT kita perlu
melakukan transformasi dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital,
seperti 3D printing, automation, dan internet of things,” sebutnya.

Transformasi ini diyakini dapat mendongkrak produktivitas
dan kualitas secara efisien, serta dapat membangun klaster industri TPT yang
terintegrasi dengan terkoneksi teknologi industri 4.0.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
mengungkapkan, industri TPT dalam negeri mampu kompetitif di kancah global
karena telah memiliki daya saing tinggi. Hal ini didorong lantaran struktur
industrinya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya juga
dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.

“Dengan pertumbuhan ekonomi dan pergeseran
permintaan dari pakaian sehari-hari (basic
clothing
) menjadi pakaian fungsional seperti baju olahraga, industri TPT
nasional pun perlu membangun kemampuan produksi dan meningkatkan skala ekonomi
agar dapat memenuhi permintaan di pasar domestik maupun ekspor,” tuturnya.

Menperin mengemukakan, kemampuan industri TPT semakin
kompetitif, baik di pasar domestik maupun global. Ini terlihat pada laju
pertumbuhan industri TPT sepanjang tahun 2018 yang tercatat di angka 8,73
persen atau mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,17 persen.

“Pada tahun 2018, industri TPT menjadi penghasil
devisa yang cukup signifikan dengan nilai ekspor mencapai USD13,22 miliar atau
naik 5,55 persen dibanding tahun lalu. Selain itu, industri TPT telah menyerap
tenaga kerja sebanyak 3,6 juta orang. Ini yang menjadikan industri TPT sebagai
sektor padat karya dan berorientasi ekspor,” paparnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Tembus 100 Ribu Penonton, Film Titip Bunda di Surga-Mu Masih Tayang dan Buktikan Kekuatan Kasih Ibu di Layar Lebar!

Gelombang kehangatan film drama keluarga Titip Bunda di Surga-Mu masih terasa di seluruh penjuru tanah air. Film yang diadaptasi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img