Moneter.id – Kementerian
Perindustrian semakin gencar memacu lembaga riset yang dimilikinya agar lebih aktif
melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang). Tujuannya adalah menciptakan
inovasi teknologi bagi sektor industri untuk mendorong peningkatan
produktivitas dan daya saing.
“Litbang
menjadi kegiatan unggulan untuk sektor industri, karena bertujuan menghasilkan
produk yang kreatif, inovatif, dan kompetitif. Dari inovasi teknologi tersebut,
kita dapat mengolah bahan baku dengan nilai tambah dan daya saing yang lebih
tinggi,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, Rabu (7/8).
Kepala
BPPI menyampaikan, pihaknya terus memotivasi lembaga litbang di bawah BPPI Kemenperin
untuk memberikan kontribusi besar melalui pelayanan teknisnya. Hal ini guna
menjawab tantangan di sektor industri manufaktur saat ini, terutama dalam upaya
meningkatan nilai tambah bagi komoditas domestik dan mengurangi ketergantungan
pada produk impor.
“Sekarang
BPPI Kemenperin didukung sebanyak 24 unit penyedia layanan jasa teknis di
berbagai daerah, yang terdiri dari 11 unit Balai Besar, 11 unit Balai Riset dan
Standardisasi Industri (Baristand Industri), Balai Sertifikasi Industri, serta
Balai Pengembangan Produk dan Standardisasi Industri,” sebutnya.
Pada
tahun ini, telah terpilih enam hasil inovasi terbaik dari unit litbang di bawah
BPPI. Pertama, Baristand Industri Medan yang menghasilkan Rekayasa dan Rancang
Bangun Heavy Duty Coupling Produk Industri Kecil Menengah untuk Pabrik
Kelapa Sawit.
“Inovasi
ini untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menekan nilai impor pada komponen
mesin yang digunakan oleh pabrik kelapa sawit,” ungkap Ngakan.
Kedua,
Balai Besar Kerajinan dan Batik dengan menciptakan dua hasil litbang terbaik,
yaitu Perancangan Aplikasi Pembeda Produk Batik dan Tiruan Batik menggunakan
Tensor Flow, Batik Analyzer. Ini sebuah aplikasi yang mengadopsi teknologi artificial
intelligence (AI), berupa machine
learning yang sistemnya dapat dilatih untuk membedakan produk batik dan
produk tiruan batik.
Ketiga, adalah Limbah Kulit Buah Kakao Untuk Pewarna Batik. “Limbah kulit buah
kakao yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dapat menjadi produk yang lebih
bernilai untuk keperluan bahan pewarna alami batik,” imbuhnya.
Berikutnya,
inovasi dari Balai Besar Kimia Kemasan dengan judul “Antioksidan dan Wound
Healing dari Ekstraksi Spirulina sp sebagai Bahan Sediaan Kosmetik”.
Berdasarkan analisa dari percobaan ekstraksi yang telah dilakukan, antioksidan
tersebut berpotensi digunakan sebagai bahan untuk mempercepat penyembuhan luka
(wound healing) dengan meningkatkan pertumbuhan sel sehingga regenerasi
sel pada kulit yang mengalami kerusakan akan tumbuh lebih cepat.
Adapun,
inovasi kelima dari Balai Besar Pulp dan Kertas yang menghasilkan riset dengan judul
“Furfural dari Proses Pembuatan Pulp”. Penelitian ini memanfaatkan
cairan prehydrolized liquor (PHL) untuk mendapatkan furfural atau
salah satu senyawa kimia yang merupakan salah satu bahan baku industri farmasi.
“Selama
ini, furfural hanya didapatkan
melalui impor,” jelas Ngakan.
Sementara
itu, Balai Besar Tekstil dengan judul risetnya: “Xanthan Gum dari Xanthomonas
campestris Sebagai Pengental Untuk Aplikasi Proses Pencapan Tekstil”. “Bahan tersebut
digantikan dengan Xanthan Gum dengan media ampas tahu yang memiliki hasil
kualitas printing warna yang lebih baik,” tungkas Ngakan.




