Moneter.id – Chief
Economies Work Bank Frederico Gil Sander mengatakan, tumbuh cepat nya
perekonomian Indonesia terdorong oleh investasi yang cukup tinggi. Meskipun,
pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil mengalami penurunan tipis menjadi
5,1%, namun hal tersebut sudah cukup membuktikan jika investasi yang masuk ke
Indonesia masih cukup tinggi. Seperti
diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I/2018 mencapai 5,06%.
“Pertumbuhan
ekonomi Indonesia terdorong oleh investasi yang tinggi. Pertumbuhan PDB riil
menurun tipis menjadi 5,1% pada Triwulan I/2018, sedikit lebih rendah dari
5,2% pada Triwulan IV/2017,” ujarnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta,
Rabu (6/06).
Ia menyebut, tingginya
investasi terdorong oleh meningkatkan harga komoditas global. Khususnya pada
investasi permesinan, peralatan, dan kendaraan bermotor. “Akibatnya,
pembentukan modal tetap bruto bertumbuh sebesar 7,9%, yang tercepat dalam lebih
dari 5 tahun ini,” ucapnya.
Pertumbuhan yang lebih
tinggi dalam investasi di permesinan juga menyebabkan peningkatan lebih lanjut
dalam impor. Angka impor bahkan tumbuh lebih dari dua kali laju pertumbuhan
ekspor, dan bertindak sebagai penghambat pada pertumbuhan.
Sementara
itu, pertumbuhan konsumsi swasta tetap sebesar 5%. Meskipun terdapat
tanda-tanda awal pemulihan penjualan ritel.
“Pertumbuhan di sisi
produksi adalah pertumbuhan yang meluas, dan nilai tambah bruto pada harga
produsen dipacu di triwulan ini,” jelasnya.
Defisit neraca transaksi
berjalan pun menurun di Triwulan pertama tahun ini. Hal itu disebabkan oleh
defisit perdagangan jasa yang menurun tajam. Tercatat, defisit neraca transaksi
berjalan menurun menjadi 2,1% dari PDB pada Triwulan pertama.
Padahal pada
kuartal sebelumnya, defisit neraca perdagangan berada di kisaran 2,3% dari PDB
di Triwulan ke-4. “Sebagian oleh karena masuknya wisatawan asing yang lebih
tinggi,” ucapnya.
“Akibatnya,
pembentukan modal tetap bruto bertumbuh sebesar 7,9%, yang tercepat dalam lebih
dari 5 tahun ini,” ucapnya lagi.
Pertumbuhan yang lebih
tinggi dalam investasi di permesinan juga menyebabkan peningkatan lebih lanjut
dalam impor. Angka impor bahkan tumbuh lebih dari dua kali laju pertumbuhan
ekspor, dan bertindak sebagai penghambat pada pertumbuhan. Sementara itu,
pertumbuhan konsumsi swasta tetap sebesar 5%. Meskipun terdapat tanda-tanda
awal pemulihan penjualan ritel.
“Pertumbuhan di sisi
produksi adalah pertumbuhan yang meluas, dan nilai tambah bruto pada harga
produsen dipacu di triwulan ini,” jelasnya.
Defisit neraca transaksi
berjalan pun menurun di Triwulan pertama tahun ini. Hal itu disebabkan oleh
defisit perdagangan jasa yang menurun tajam. Tercatat, defisit neraca transaksi
berjalan menurun menjadi 2,1% dari PDB pada Triwulan pertama.
Padahal pada
kuartal sebelumnya, defisit neraca perdagangan berada di kisaran 2,3% dari PDB
di Triwulan ke-4 “Sebagian oleh karena masuknya wisatawan asing yang lebih
tinggi,” pungkasnya.
(HAP)




