Moneter.id
–
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
menerbitkan surat utang global atau global
bond senilai US$ 350 juta dengan tingkat kupon 5,375%.
Obligasi yang jatuh tempo pada 2026 dan
dicatatkan di Bursa Efek Singapura (SGX) ini mengalami kelebihan permintaan atau
oversubscribed sebanyak 3 kali.
Obligasi global dalam format Sustainability-Linked
Bond (SLB) ini juga telah meraih peringkat sementara BB- oleh Standard
& Poor’s dan BB- oleh Fitch.
Dan bertindak sebagai pihak yang
menangani penerbitan surat utang ini yakni Credit
Suisse dan DBS Bank Ltd.
“SLB ini merupakan penerbitan
obligasi ketiga perseroan. Respon positif yang perseroan terima dari pasar
merupakan cerminan dari pendekatan keuangan perseroan yang berhati-hati, dengan
profil hutang yang seimbang dan pengelolaan belanja modal yang efisien,” kata Direktur
Japfa Comfeed Indonesia Tan Yong Nang, Rabu (17/3).
SLB ini merupakan yang pertama pada
industri agribisnis makanan dan penerbitan SLB dalam denominasi dolar Amerika
Serikat (AS) pertama dari Asia Tenggara.
Hal ini memperkuat komitmen Japfa
terhadap keberlanjutan dan penyelarasan strategi keberlanjutannya luang sesuai
dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya SDG 2.
Tujuan tersebut antara lain
mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi, serta
mempromosikan pertanian berkelanjutan. Sebagai informasi, Japfa menerapkan
kebijakan Life Cycle Assessment (LCA) yang dimulai pada 2019.
LCA adalah penilaian formal berbasis
sains dari siklus produksi perusahaan yang terintegrasi secara vertikal dari
pakan hingga produk ayam yang dijual. Studi ini bertujuan untuk memberikan
pemahaman yang lebih baik tentang dampak yang terkait dengan produk Japfa.
Kebijakan LCA juga mengidentifikasi
peluang untuk meningkatkan kinerja lingkungan produknya di berbagai tahapan
dalam siklus hidupnya. Berdasarkan LCA, pengolahan air limbah dan pengelolaan
air telah diidentifikasi sebagai area fokus utama di mana dampak positif dapat
dibuat.
Sesuai rencana, hasil bersih dari
penerbitan ini akan digunakan untuk membayar kembali surat utang senilai US$
250 juta yang jatuh tempo 2022 dan untuk keperluan umum perusahaan, termasuk
namun tidak terbatas pada belanja modal, modal kerja dan pembiayaan kembali
utang.
Penerbitan SLB memprioritaskan
standar lingkungan yang terkait dengan pencapaian Target Kinerja Keberlanjutan
(Sustainability Performance Target/SPT).
Kebijakan ini memininalisir dampak terkait pencemaran air dari air limbah yang
tidak diolah dengan mengurangi potensi eutrofikasi melalui pengelolaan,
pengolahan, daur ulang dan pemanfaatan air limbah.
Pada akhirnya, kebijakan ramah
lingkungan ini meningkatkan sirkulasi air dan mengurangi pengeluaran air. Dalam
SPT tersebut, selama 3 tahun 9 bulan ke depan terhitung sejak tanggal SLB
diterbitkan, Japfa akan membangun 8 fasilitas daur ulang air, dari 15 rumah
pemotongan hewan di bawah operasi unggasnya.
Selain itu, perseroan juga akan
membangun 1 fasilitas daur ulang air di tempat penetasan dalam unit pembiakan
unggas. Nantinya, pencapaian SPT akan disahkan melalui sertifikasi. Investor
berhak menerima peningkatan kupon 25bps jika SPT tidak terpenuhi, berlaku untuk
sisa periode bunga. Jika SPT terpenuhi maka tidak akan ada penyesuaian kupon.
Diketahui,
Japfa menerima penilaian Vigeo Eiris (V.E), yakni lembaga internasioanl
penilaian ESG. Japfa dinilai kuat, baik relevansi KPI maupun ambisi SPT. Vigeo
Eiris mengonfirmasi bahwa SLB sejalan dengan komponen inti dari Prinsip
Obligasi Keberlanjutan 2020 dari International Capital Market Association
(ICMA).




