Moneter.id – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
(Kemenparekraf) melakukan beberapa langkah strategis untuk mengatasi dampak
COVID-19 bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di tanah air.
Kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf)
Wishnutama Kusubandio, pihaknya menyiapkan tiga tahapan untuk merespon dampak
COVID-19 yaitu tanggap darurat, pemulihan (recovery)
dan normalisasi.
“Kami memberikan support
kepada tenaga kesehatan untuk menyiapkan akomodasi, makanan, hingga
transportasi. Karena tenaga kesehatan saat ini menjadi garda terdepan dalam
penanganan kasus COVID-19 agar tidak meluas,” kata Wishnutama di Jakarta,
Selasa (7/4/2020).
Tahap kedua, lanjut Wishnutama, yaitu pemulihan, pihaknya
akan melakukan identifikasi dan berkoordinasi dengan K/L lain untuk
mengindentifikasi dampak secara detail akibat wabah COVID-19 terhadap para
pelaku parekraf dari sisi ketenagakerjaan, utilitas, keringanan retribusi,
relaksasi pinjaman, pemanfaatan kartu pra kerja, hingga pelatihan online untuk
SDM.
“Terakhir, adalah tahap normalisasi yakni melakukan
promosi kembali baik di dalam maupun luar negeri, hingga menyiapkan insentif
untuk industri pariwisata sekaligus pelaku ekonomi kreatif,” paparnya.
Sementara Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia
(PHRI) Hariyadi Sukamdani menjelaskan, dari data yang masuk ke PHRI saat ini
terdapat 1.266 hotel yang terpaksa tutup di 31 provinsi. Meski belum ada data
spesifik mengenai jumlah karyawan yang terdampak penutupan hotel, ia
memperkirakan sebanyak lebih dari 150 ribu karyawan yang berstatus cuti di luar
tanggungan perusahaan.
“Kami terkendala di pendataan, pihak restoran masih
banyak yang belum masuk. Data pekerja yang menuhi standar untuk mendapat
bantuan hingga saat ini baru berkisar 74.101. Data tersebut kami prediksi bisa
melebihi dari data karyawan yang masuk saat ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Biro Perjalanan Wisata
Indonesia (ASITA) Nunung Rusmiati menjelaskan sejauh ini, pihaknya terus
memonitor semua travel agen anggotanya yang berjumlah sekitar 7.000 di 34
provinsi. Dan terus berkoordinasi dengan seluruh DPD ASITA seluruh Indonesia
untuk memantau perkembangan dampak dari wabah COVID-19 ini.
“Jadi mulai sekarang sudah ada yang mengurangi gaji
karyawan sebanyak 25 persen. Bahkan travel sudah mengatakan, kalau keadaan
seperti ini terus bisa sampai 50 persen. Alhamdulillah ada beberapa travel yang
tidak mengurangi karyawan atau tidak melakukan PHK,” katanya.




