Kamis, Januari 15, 2026

Kemenperin Gembleng Guru dan Dosen Hadapi Digitalisasi

Must Read

Moneter.co.id – Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan kompetensi para guru dan dosen yang
mengajar di seluruh unit pendidikan binaannya dan balai diklat industry. Hal
ini dilakukan agar mampu menghadapi era ekonomi digital termasuk Industry 4.0.
Untuk itu, diperlukan peta jalan dan sistem pengajaran yang terpadu sehingga
bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) sesuai kebutuhan dunia industri saat
ini.

“Kami dorong
supaya mereka menyiapkan kurikulum untuk keperluan industri nasional di era
digital,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara bertajuk
“Menyongsong Satu Abad Pendidikan Vokasi Industri untuk Mewujudkan
Pendidikan Sistem Ganda di Lingkungan Kementerian Perindustrian” di
Jakarta, Rabu (27/12).

Menperin juga
memberikan pengarahan kepada 750 tenaga pengajar di bawah naungan Kemenperin,
yang terdiri dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Politeknik, dan Akademi
Komunitas. Saat ini, Kemenperin memiliki sembilan SMK kejuruan, sembilan politeknik
dan satu akademi komunitas yang telah menjadi rujukan bagi pengembangan
pendidikan vokasi di Indonesia.

“Dalam
pengembangan kurikulum ini, perlu mencakup tiga mata kuliah yang
wajib diterapkan, yaitu Bahasa Inggris, Statistika untuk analisis
data dan Koding. Waktunya cukup satu semester,” ujar Airlangga.

Selain itu, menurutnya, dunia
pendidikan di Indonesia harus berubah dengan menggunakan metode problem
based learning
 dan evidence based learning.

“Sehingga
siswa langsung belajar menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam dunia
industri,” imbuhnya.

Untuk itu,
Airlangga meminta agar seluruh unit pendidikan di lingkungan Kemenperin lebih
berperan aktif dalam mendukung program pendidikan dan pelatihan vokasi yang
sedang dikembangkan oleh pemerintah.

“Dengan SDM
yang terampil, produktivitas industri dalam negeri akan bersaing di kancah
global. Sebab, daya saing suatu negara ditentukan juga dengan kemajuan
industrinya. Kemudian, kemajuan industri akan berimbas pada ketersediaan
lapangan kerja dan pendapatan masyarakat,” paparnya.

Program strategis

Lebih
lanjut, Menperin menyampaikan, diperlukan berbagai program strategis untuk
memastikan bahwa industri di Indonesia semakin banyak menyerap tenaga kerja
lokal. Salah satunya melalui peluncuran program vokasi link and match antara SMK dengan industri yang sejalan dengan
Inpres Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka Peningkatan
Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia.

Sepanjang
tahun ini, telah dilakukan empat kali peluncuran program vokasi tersebut,
meliputi wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Jawa Barat serta
wilayah Sumatera Bagian Utara.  Hasilnya, melibatkan 415 industri dan
1.245 SMK dengan jumlah sebanyak 2.177 perjanjian kerja sama yang telah
ditandatangani kedua belah pihak.

Sebagai
tindak lanjutnya, telah dilakukan pula penyelarasan 35 program studi bidang
industri yang akan diimpelementasikan di SMK. Kemenperin pun memiliki target
penyediaan minimal satu juta tenaga kerja industri tersertifikasi yang akan
dipenuhi selama tiga tahun pada 2017-2019.

Di samping
itu, untuk mendukung pendidikan vokasi, Kemenperin memberikan bantuan peralatan
praktikum minimum senilai Rp35 miliar untuk 74 SMK. Kemudian, pada tahun 2018,
telah dialokasikan peningkatan kompetensi guru bidang produktif melalui
pelatihan dan magang yang bekerjasama dengan ITE Singapura, Formosa Training
Center Taiwan, serta industri dan lembaga pelatihan teknis sebanyak 1.900
orang, termasuk juga fasilitasi silver
expert
sebanyak 50 orang.

Sementara
itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Kementerian Perindustrian, Mujiyono
menyampaikan kualitas SDM merupakan jawaban dari tantangan global di era
digitalisasi saat ini. “Untuk mengurangi jumlah pengangguran dan mendorong
perekonomian nasional, SDM kita harus terus dilatih sehingga dapat langsung
terserap di industri,” tuturnya.

Mujiyono
menambahkan, terdapat tiga tahapan pendidikan vokasi, yakni pertama sekolah
konvensional yang mengajarkan semua kompetensi yang berada di dalam jurusan
tersebut. Kedua, sekolah yang kurikulumnya link and match dengan kebutuhan
industri. Ketiga, sekolah yang menerapkan dual system, yakni porsi belajar di sekolah
dan industri seimbang.

“Pendidikan
adalah inkubator. Saat ini, sekolah vokasi dan politeknik di bawah naungan
Kemenperin telah link
and match
 dengan industri. Pada tahun depan akan menuju ke
arah dual system,”
ujarnya.

Sistem yang
mengkombinasikan antara teori di sekolah dan praktik di industri tersebut telah
diterapkan di berbagai negara maju seperti Jerman dan Swiss.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img