Moneter.id – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, guna memacu
pertumbuhan industri makanan dan minuman (Mamin) berbasis industri
4.0, Kemenperin telah menyiapkan tiga strategi, antara lain, mendorong
produktivitas di sektor hulu yaitu pertanian, peternakan, dan perikanan,
melalui penerapan dan investasi teknologi seperti sistem monitoring otomatis
dan autopilot drones.
Kedua, mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di sepanjang rantai
nilai untuk mengadopsi teknologi yang dapat meningkatkan hasil produksi dan
pangsa pasar mereka. “Selanjutnya, meningkatkan ekspor dengan memanfaatkan
akses terhadap sumber daya pertanian dan skala ekonomi domestik,”
ungkapnya di Tanggamus, Lampung, Senin (25/3)..
Airlangga menyebut, konsep tersebut salah satunya dilakukan oleh PT Great
Giant Pineapple di lokasi Tanggamus, Lampung dan telah menjadi bukti
nyata bahwa strategi Revolusi Industri 4.0 di sektor mamin dapat diterapkan
dengan baik dan secara nyata berhasil meningkatkan produksi dan kualitas
produk.
“Untuk itu, kami mendorong perusahaan-perusahaan industri mamin berbasis
agro lainnya agar dapat melakukan hal yang serupa,” ucapnya.
Lebih lanjut, bagi Indonesia, implementasi
industri
4.0 memberikan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia dengan
melipatgandakan produktivitas tenaga kerja, sehingga dapat meningkatkan daya
saing global dan mengangkat pangsa pasar ekspor global.
“Selain itu, membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, serta
konsumsi domestik menjadi lebih kuat dan Indonesia dapat menjadi salah
satu negara dalam 10 besar yang memiliki perekonomin terkuat
di dunia,” jelasnya.
Airlangga menuturkan, Kemenperin telah menyusun inisiatif Making Indonesia
4.0 yang memuat strategi dan peta jalan untuk menyongsong Industri 4.0 di
Indonesia. Peta Jalan Making Indonesia 4.0 memberikan arah dan strategi yang
jelas bagi pergerakan industri Indonesia di masa yang akan datang, termasuk di
lima sektor yang menjadi fokus yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian
jadi, otomotif, kimia, serta elektronika.
Dalam menerapkan Making Indonesia 4.0, Kemenperin aktif memacu 10 prioritas
nasional dalam upaya meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing
industri nasional. “Revolusi Industri 4.0 tidak hanya berpotensi
luar biasa dalam meningkatkan daya saing, tapi juga mengubah berbagai aspek
kehidupan manusia,” tuturnya.
Plt Direktur Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional
(KPAII) Ngakan Timur Antara menambahkan, program kawasan industri hortikultura yang
berkolaborasi dengan petani dan kelompok usaha tani melalui Koperasi Usaha Tani
atau disebut Corporate Shared Value (CSV), seperti yang diterapkan di Kabupaten
Tanggamus bisa menjadi role model bagi wilayah lainnya.
“Sebagai percontohan yang baik, maka konsep kemitraan
ini diharapkan dapat diikuti oleh wilayah provinsi lainnya, seperti Bali dan
Bengkulu. Keberhasilan konsep ini dapat dilihat dari ekspor produk hortikultura
yang hari ini dilepas dengan tujuan ke Singapura dan China,” ungkapnya.




