Senin, Januari 26, 2026

Kemenperin Targetkan Industri Agro Tumbuh 7,10 Persen Tahun 2019

Must Read

Moneter.id – Kementerian
Perindustrian
memasang target pertumbuhan
sektor industri agro
sebesar
7,10% pada tahun 2019, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu
sekitar 6,93%.

Plt.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono
mengatakan, kinerja sektor industri agro
diproyeksi terdongkrak karena akan adanya lonjakan dari permintaan domestik
pada momentum pemilihan umum (pemilu), seperti produk makanan dan minuman.

“Di
tahun politik ini, ada beberapa sektor yang bakal meraih peluang besar, di
antaranya adalah industri makanan dan minuman,” kata
nya di Jakarta, Minggu (6/1).

Pada
kuartal III/2018, industri agro mencatatkan pertumbuhan di
angka 7,23% secara tahunan. “Kami optimistis, realisasi
pertumbuhan industri agro di tahun 2019 akan lebih besar dari target 7,10
%,” imbuhnya.

Selama
ini, industri agro menjadi sektor andalan dalam memacu kinerja industri
pengolahan nonmigas, yang juga turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pertumbuhan
tersebut didukung oleh tumbuhnya masing-masing subsektor, seperti industri
makanan dan minuman, industri hasil tembakau, industri pengolahan kayu, bambu
dan rotan, industri kertas dan berbahan kertas, serta industri furnitur,” papar
Sigit.

Pada
semester I
/2018,
industri agro
menyumbang
hingga 49,11
% dari
total produk domestik bruto
(PDB) sektor nonmigas. Di
periode yang sama, ekspor dari industri agro
berkontribusi mencapai USD23,26 miliar
atau 26
,43% terhadap total ekspor
nasional. “Artinya, produk-produk agro kita telah mampu berdaya saing global,”
ungkapnya.

Bahkan,
investasi di industri agro juga menjadi motor penggerak pertumbuhan sektor
manufaktur di Indonesia. Pada semester I
/2018,
penanaman modal dalam negeri (PMDN) di industri agro mencapai Rp24,32 triliun,
sedangkan penanaman modal asing (PMA) menembus angka USD1,1 miliar.

Sebelumnya,
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memaparkan kinerja
positif dari
beberapa subsektor

industri agro, antara lain industri pengolahan crude palm oil (CPO), kakao, dan gula. Di industri pengolahan
sawit, program implementasi B-20 mendorong pertumbuhan pasar domestik produk
hilir sebesar 6,5
%
serta ekspor produk pangan dan biofuel kelapa sawit tumbuh
hingga 7,4%.

“Saat
ini, rasio ekspor produk hilir di industri CPO sebesar 80
% dibandingkan produk hulu.
Investasi mencapai USD1,2 miliar dengan penyerapan tenaga kerja langsung
sebanyak 2.000 orang dan 32.000 tenaga kerja tidak langsung,” paparnya.

Pada
2019, pasokan biodiesel ditargetkan sebesar 6,1 juta ton yang didukung dengan
pabrik biodiesel nasional berkapasitas terpasang mencapai 12,75 juta Kilo
Liter.

Sementara
itu, industri pengolahan kakao, terjadi peningkatan utilitas menjadi 61
% pada tahun 2018 dibanding
tahun 2017 sekitar 59
%.
Selanjutnya, industri pengolahan kakao menikmati surplus hingga USD770 juta
dengan peningkatan ekspor cocoa butter
sebesar 19
% dan cocoa powder 18 persen pada
Januari-September 2018.

Sedangkan,
pertumbuhan di industri gula didukung oleh pembangunan tiga pabrik gula baru
dengan total investasi mencapai Rp16,16 triliun dan kapasitas hingga 35.000
TCD. Ketiga pabrik gula baru itu adalah Rejoso Manis Indo di Blitar, Muria
Sumba Manis di NTT, dan Pratama Nusantara Sakti di Ogan Komering Ilir.

“Kami
bertekad untuk terus memacu industri agro di Indonesia agar lebih produktif dan
kompetitif, dengan pemanfaatan teknologi terbaru sesuai implementasi peta jalan
Making Indonesia 4.0. Apalagi, industri makanan dan minuman akan menjadi pionir
dalam penerapan revolusi industri 4.0,” tegasnya.

Baca juga: Kemenperin Bidik Investasi Rp130 Triliun di Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Kawasaki W175 ABS dan W175 Street Kembali Hadir untuk Konsumen Indonesia

PT. Kawasaki Motor Indonesia kembali menghadirkan W175 ABS dan W175 STREET, dua model bergaya retro autentik yang menjadi bagian...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img