Moneter.co.id – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian
Pertanian (Balitbangtan Kementan) memperkenalkan dua varietas unggul mangga
yakni mangga varietas Gadung 21 dan Agri Gardina 45 dalam ajang Agro Inovasi
Fair 2017 di Bogor, Jawa Barat (Jabar).
“Mangga Agri Gardina 45 memiliki karakter tajuk rendah
sekitar 3 m, genjah (umur 3 tahun setelah tanam sudah berbuah bahkan umur 1,5
tahun ada yang sudah berbuah), umur panen genjah (90-100 hari setelah bunga
mekar),” tulis keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Jumat (24/11).
Selain itu produksi tinggi, yakni pada umur 3 tahun
berproduksi 136 buah/pohon/tahun dan umur 4 tahun berproduksi 273
buah/pohon/tahun), dan warna kulit buahnya menarik.
Kepala Puslitbang Hortikultura, Hardiyanto mengatakan,
pangkal buah mangga yang berwarna merah serta ujung kuning menjadikan Agri
Gardina 45 sangat cocok untuk tanaman pekarangan baik di pedesaan maupun untuk
tabulampot (tanaman buah dalam pot) di perkotaan karena tanaman tersebut
bertajuk rendah dan indah, rasa buahnya enak, aromanya harum. “Penampilannya menarik serta dapat dimakan seperti makan
pisang, sering disebut mangga pisang,” katanya.
Sementara Mangga Gadung 21 ini memiliki ukuran buah besar,
daging buah tebal, kuantitas serat pada daging buah rendah, kadar pati cukup
tinggi (10,27 persen) dan kadar air rendah (75-77 persen) sehingga buah masak
pohon bisa dimakan memakai sendok, serta rasanya manis (TSS 15-21 persen).
Gadung 21 dapat dimakan dengan dibelah tengahnya, kemudian
diputar hingga terbelah menjadi dua dan dapat dimakan menggunakan sendok
seperti makan buah alpukat. Karena cara makannya seperti makan buah alpukat
maka masyarakat menyebutnya mangga alpukat.
“Mangga merupakan komoditas hortikultura yang strategis bagi
Indonesia karena, selain disukai konsumen dalam negeri juga disukai konsumen
luar negeri dan menjadi komoditas ekspor penyumbang devisa Negara,” kata
Hardiyanto.
Namun demikian, tambahnya, kondisi agribisnis mangga masih
banyak menghadapi kendala, yang mana permasalahan yang muncul secara menonjol
di Indonesia adalah rendahnya kualitas dan kontinuitas buah, periode produksi
yang pendek sehingga terjadi penumpukan pada satu waktu sehingga fluktuasi
harga yang tinggi, serta terbatasnya pelaku di sektor on-farm.
Selain itu, persaingan yang semakin berat di pasar global,
membutuhkan inovasi teknologi dalam pengusahaan mangga baik dari sisi on-farm maupun off-farm. “Para
pelaku usaha di negara-negara pesaing terus mengembangkan inovasi untuk
memenangkan persaingan pasar mangga,” katanya.
Terkait hal itu, lanjutnya, Balitbangtan selama 43 tahun
telah menghasilkan berbagai teknologi inovatif yang dapat diterapkan oleh
pengguna untuk meningkatkan daya saing mangga Indonesia. (TOP)




