Senin, Oktober 5, 2026

Kerugian Serangan Siber di Indonesia Tembus Rp111 Triliun, Perusahaan Perlu Perkuat Pertahanan Digital

Must Read

Ancaman serangan siber menjadi salah satu risiko yang semakin perlu diperhatikan seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi digital oleh perusahaan di Indonesia. Bank Indonesia (BI) memperkirakan kerugian akibat serangan siber di Indonesia mencapai sekitar US$6,2 miliar atau setara Rp111,02 triliun sepanjang 2026.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan estimasi tersebut dalam acara FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Menurut Destry, angka tersebut mengacu pada data asosiasi penyelenggara jasa internet dan statistik di Indonesia. Kerugian yang diperhitungkan mencakup berbagai dampak, mulai dari penyalahgunaan data, fraud, hingga scam.

Besarnya nilai tersebut menunjukkan bahwa risiko keamanan siber tidak lagi hanya berkaitan dengan gangguan terhadap sistem teknologi, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap aktivitas dan keberlangsungan bisnis perusahaan.

Di tengah percepatan transformasi digital, perusahaan semakin bergantung pada berbagai teknologi seperti cloud, aplikasi bisnis, konektivitas antar kantor, sistem pembayaran, hingga layanan digital yang terhubung dengan pelanggan dan mitra. Semakin banyak sistem yang saling terhubung, semakin banyak pula aspek yang perlu diperhatikan dari sisi keamanan.

Direktur PT Nusa Network Prakarsa, Edward, mengatakan peningkatan pemanfaatan teknologi digital perlu diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan sistem keamanan yang memadai.

“Besarnya potensi kerugian akibat serangan siber menunjukkan bahwa keamanan digital perlu menjadi perhatian sejak perusahaan merancang dan mengembangkan infrastruktur IT. Pendekatan keamanan perlu mencakup network, endpoint, data, aplikasi, hingga pemantauan terhadap potensi ancaman,” ujar Edward.

Menurut Edward, transformasi digital memberikan peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat proses bisnis, serta memperluas layanan. Namun, perkembangan tersebut juga membuat lingkungan IT perusahaan menjadi semakin kompleks.

Perusahaan perlu memahami aset digital yang dimiliki, bagaimana sistem saling terhubung, serta risiko yang dapat muncul dari setiap titik akses. Evaluasi terhadap infrastruktur menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan sebelum menentukan strategi pengamanan.

Assessment terhadap network dan security infrastructure, misalnya, dapat membantu perusahaan mengidentifikasi potensi celah keamanan sekaligus memahami area yang membutuhkan penguatan. Hasil evaluasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan sistem proteksi, pengelolaan akses, serta mekanisme pemantauan yang sesuai dengan kebutuhan.

“Perusahaan perlu memiliki pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat risikonya. Tidak semua perusahaan membutuhkan arsitektur keamanan yang sama, sehingga assessment dan perencanaan menjadi bagian penting sebelum menentukan teknologi yang akan digunakan,” jelas Edward.

Sebagai perusahaan system integrator, Nusa Network Prakarsa membantu perusahaan dalam berbagai kebutuhan infrastruktur IT, termasuk network infrastructure, data center infrastructure, dan security infrastructure. Pendekatan tersebut memungkinkan pengembangan infrastruktur disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, sekaligus mempertimbangkan aspek keamanan, ketersediaan, skalabilitas, dan pengelolaan operasional.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

DBS Treasures Perkuat Layanan Wealth Management Lewat DBS Travel Fair

Mengelola kekayaan dan menikmati hasilnya merupakan bagian dari perjalanan yang saling melengkapi. Bagi nasabah affluent, kebutuhan tidak hanya berfokus...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img