Minggu, Maret 1, 2026

Kontribusi Manufaktur 19,86 Persen, Tertinggi Sepanjang 2018

Must Read

Moneter.id – Industri pengolahan masih memberikan
kontribusi terbesar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB) nasional
hingga 19,86
%
sepanjang tahun 2018. Capaian positif ini terus digenjot agar di tahun 2019 lebih
meningkat seiring komitmen pemerintah merevitalisasi sektor manufaktur.

“Industri manufaktur merupakan tulang
punggung bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu menjadi sektor andalan dalam
memacu pemerataan terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat yang
inklusif,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Sabtu
(9/2).

Menurut Menperin, pemerintah fokus mengembangkan industri manufaktur yang
menitikberatkan pada sektor pengolahan sumber daya alam, berorientasi ekspor,
dan padat karya. Selanjutnya melalui pendekatan rantai pasok yang terintegrasi
dari hulu sampai hilir agar lebih berdaya saing di tingkat domestik, regional,
dan global.

“Sesuai arahan
Bapak Presiden Joko Widodo, saat ini penting sekali melakukan transformasi
ekonomi, yang menggeser ekonomi berbasis konsumsi menjadi berbasis manufaktur.
Sehingga lebih produktif dan memberikan efek berganda yang lebih besar,”
paparnya.

Airlangga
menjelaskan, aktivitas industrialisasi konsisten memberikan efek berantai yang
luas bagi perekonomian nasional. Dampak itu antara lain meningkatkan pada nilai
tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, serta penerimaan
devisa dari ekspor dan pajak.

“Oleh karena
itu, Kementerian Perindustrian serius mendorong kebijakan hilirisasi guna
mencapai sasaran tersebut,” tegasnya.

Dalam hal ini,
sejalan dengan program prioritas nasional yang terdapat dalam roadmap Making Indonesia 4.0.
“Dengan
Making Indonesia 4.0, kita harus optimistis mengembalikan industri manufaktur
sebagai sektor mainstream dalam
pembangunan nasional. Dan, melalui penerapan industri 4.0, akan lebih
meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam menciptakan produk berkualitas,”
imbuhnya.

Berdasarkan catatan Kemenperin, industri
pengolahan nonmigas mampu tumbuh sebesar 4,77
% pada tahun 2018. Adapun sektor yang
menjadi penopangnya, antara lain industri mesin dan perlengkapan yang tumbuh
9,49
%, disusul industri
kulit, barang dari kulit dan alas kaki yang tumbuh 9,42
%.

Selanjutnya, kinerja gemilang juga
ditunjukkan oleh industri logam dasar yang tumbuh 8,99
%, industri tekstil dan
pakaian jadi yang tumbuh 8,73
%,
industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,91
%, serta industri karet, barang dari
karet dan plastik yang tumbuh 6,92
%.

Industri tekstil dan pakaian jadi mampu
tumbuh tinggi, didukung oleh peningkatan produksi di daerah-daerah kantong
sektor tersebut. Sementara itu, industri logam dasar tumbuh karena dipacu oleh
permintaan aktivitas konstruksi serta permintaan luar negeri yang meningkat.
Sedangkan, pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki lantaran
dipengaruhi oleh peningkatan permintaan luar negeri terutama produk sepatu.

“Kalau kita lihat, pertumbuhannya
persektor rata-rata masih tinggi, mereka mampu melampaui pertumbuhan ekonomi,”
ujarnya. Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2018 tercatat di angka 5,17
%.

Di tengah
kondisi perlambatan ekonomi di tingkat global, Kemenperin optimistis memasang
target
pertumbuhan industri nonmigas sebesar
5,4
% pada tahun 2019.
Adapun sektor-sektor yang diproyeksikan tumbuh tinggi, di antaranya industri
makanan dan minuman, permesinan, tekstil dan pakaian jadi, serta kulit barang
dari kulit dan alas kaki.




- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sambut Ramadan 2026, Grand Travello Hotel Bekasi Hadirkan Showcase Kuliner dan Paket Spesial

Grand Travello Hotel menggelar Ramadan Showcase 2026 sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berkualitas bagi masyarakat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img